Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

05 September 2010

Ternyata Islam Sudah Ada di Amerika Jauh Sebelum Kedatangan Colombus


السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.


Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.


Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.


Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.


Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.


Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya. Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah (*)


Subhanallah….

Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?

Sejarahnya panjang,

Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.


Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.


Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.


Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.


Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika. Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

Dan mengapa hanya Columbus saja yang sampai saat ini dikenal sebagai penemu benua amerika? Karena saat terjadi pengusiran kaum yahudi dari spanyol sebanyak 300.000 orang yahudi oleh raja Ferdinand yang Kristen, kemudian orang-orang yahudi menggalang dana untuk pelayaran Columbus dan berita ‘penemuan benua Amerika’ dikirim pertama kali oleh Christopher Columbus kepada kawan-kawannya orang Yahudi di Spanyol.

Pelayaran Columbus ini nampaknya haus publikasi dan diperlukan untuk menciptakan legenda sesuai dengan ‘pesan sponsor’ Yahudi sang penyandang dana. Kisah selanjutnya kita tahu bahwa media massa dan publikasi dikuasai oleh orang-orang Yahudi yang bahkan dibenci oleh orang-orang seperti Henry Ford si raja mobil Amerika itu.


Maka tampak ada ketidak-jujuran dalam menuliskan fakta sejarah tentang penemuan benua Amerika. Penyelewengan sejarah oleh orang-orang Yahudi yang terjadi sejak pertama kali mereka bersama-sama orang Eropa menjejakkan kaki ke benua Amerika.

Dan tahukah anda? sebenarnya laksam ana Zheng He atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama laksamana Cheng Ho adalah penemu benua amerika pertama, sekitar 70 tahun sebelum Columbus.

Sekitar 70 tahun sebelum Columbus menancapkan benderanya di daratan Amerika, Laksamana Zheng He sudah lebih dulu datang ke sana. Para peserta seminar yang diselenggarakan oleh Royal Geographical Society di London beberapa waktu lalu dibuat terperangah. Adalah seorang ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies dengan paparannya dan lantas mendapat perhatian besar.

Tampil penuh percaya diri, Menzies menjelaskan teorinya tentang pelayaran terkenal dari pelaut mahsyur asal Cina, Laksamana Zheng He (kita mengenalnya dengan Ceng Ho-red). Bersama bukti-bukti yang ditemukan dari catatan sejarah, dia lantas berkesimpulan bahwa pelaut serta navigator ulung dari masa dinasti Ming itu adalah penemu awal benua Amerika, dan bukannya Columbus.


Bahkan menurutnya, Zheng He ‘mengalahkan’ Columbus dengan rentang waktu sekitar 70 tahun. Apa yang dikemukakan Menzies tentu membuat kehebohan lantaran masyarakat dunia selama ini mengetahui bahwa Columbus-lah si penemu benua Amerika pada sekitar abad ke-15. Pernyataan Menzies ini dikuatkan dengan sejumlah bukti sejarah.

Adalah sebuah peta buatan masa sebelum Columbus memulai ekspedisinya lengkap dengan gambar benua Amerika serta sebuah peta astronomi milik Zheng He yang dosodorkannya sebagai barang bukti itu. Menzies menjadi sangat yakin setelah meneliti akurasi benda-benda bersejarah itu.

Cherokee syllabary”Laksana inilah yang semestinya dianugerahi gelar sebagai penemu pertama benua Amerika,” ujarnya. Menzies melakukan kajian selama lebih dari 14 tahun. Ini termasuk penelitian peta-peta kuno, bukti artefak dan juga pengembangan dari teknologi astronomi modern seperti melalui program software Starry Night.

Dari bukti-bukti kunci yang bisa mengubah alur sejarah ini, Menzies mengatakan bahwa sebagian besar peta maupun tulisan navigasi Cina kuno bersumber pada masa pelayaran Laksamana Zheng He. Penjelajahannya hingga mencapai benua Amerika mengambil waktu antara tahun 1421 dan 1423. Sebelumnya armada kapal Zheng He berlayar menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan sampai ke Amerika Selatan.


Uraian astronomi pelayaran Zheng He kira-kira menyebut, pada larut malam saat terlihat bintang selatan sekitar tanggal 18 Maret 1421, lokasi berada di ujung selatan Amerika Selatan. Hal tersebut kemudian direkonstruksi ulang menggunakan software Starry Night dengan membandingkan peta pelayaran Zheng He.

“Saya memprogram Starry Night hingga masa di tahun 1421 serta bagian dunia yang diperkirakan pernah dilayari ekspedisi tersebut,” ungkap Menzies yang juga ahli navigasi dan mantan komandan kapal selam angkatan laut Inggris ini. Dari sini, dia akhirnya menemukan dua lokasi berbeda dari pelayaran ini berkat catatan astronomi (bintang) ekspedisi Zheng He.

Lantas terjadi pergerakan pada bintang-bintang ini, sesuai perputaran serta orientasi bumi di angkasa. Akibat perputaran bumi yang kurang sempurna membuat sumbu bumi seolah mengukir lingkaran di angkasa setiap 26 ribu tahun. Fenomena ini, yang disebut presisi, berarti tiap titik kutub membidik bintang berbeda selama waktu berjalan. Menzies menggunakan software untuk merekonstruksi posisi bintang-bintang seperti pada masa tahun 1421.

“Kita sudah memiliki peta bintang Cina kuno namun masih membutuhkan penanggalan petanya,” kata Menzies. Saat sedang bingung memikirkan masalah ini, tiba-tiba ditemukanlah pemecahannya. “Dengan kemujuran luar biasa, salah satu dari tujuan yang mereka lalui, yakni antara Sumatra dan Dondra Head, Srilanka, mengarah ke barat.”

Bagian dari pelayaran tersebut rupanya sangat dekat dengan garis katulistiwa di Samudera Hindia. Adapun Polaris, sang bintang utara, dan bintang selatan Canopus, yang dekat dengan lintang kutub selatan, tercantum dalam peta. “Dari situ, kita berhasil menentukan arah dan letak Polaris. Sehingga selanjutnya kita bisa memastikan masa dari peta itu yakni tahun 1421, plus dan minus 30 tahun.”

Sequoyah Atas temuan tersebut, Phillip Sadler, pakar navigasi dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, mengatakan perkiraan dengan menggunakan peta kuno berdasarkan posisi bintang amatlah dimungkinkan. Dia juga sepakat bahwa estimasi waktu 30 tahun, seperti dalam pandangan Menzies, juga masuk akal.


Selama ini, masyarakat dunia mengetahui kiprah Zheng He sebagai penjelajah ulung. Dia terlahir di Kunyang, kota yang berada di sebelah barat daya Propinsi Yunan, pada tahun 1371. Keluarganya yang bernama Ma, adalah bagian dari warga minoritas Semur. Mereka berasal dari kawasan Asia Tengah serta menganut agama Islam.

Ayah dan kakek Zheng He diketahui pernah mengadakan perjalanan haji ke Tanah Suci Makkah. Sementara Zheng He sendiri tumbuh besar dengan banyak mengadakan perjalanan ke sejumlah wilayah. Ia adalah Muslim yang taat.

Yunan adalah salah satu wilayah terakhir pertahanan bangsa Mongol, yang sudah ada jauh sebelum masa dinasti Ming. Pada saat pasukan Ming menguasai Yunan tahun 1382, Zheng He turut ditawan dan dibawa ke Nanjing. Ketika itu dia masih berusia 11 tahun.

Zheng He pun dijadikan sebagai pelayan putra mahkota yang nantinya menjadi kaisar bernama Yong Le. Nah kaisar inilah yang memberi nama Zheng He hingga akhirnya dia menjadi salah satu panglima laut paling termashyur di dunia.
Reade more >>

29 Mei 2010

Homo rudolfensis

?Homo rudolfensis
Rentang fosil: Pliosen
Homo rudolfensis.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primates
Famili: Hominidae
Genus: Homo
Spesies: H. rudolfensis
Nama binomial
Homo rudolfensis
Alexeev, 1986

Homo rudolfensis adalah fosil spesies hominin yang ditemukan oleh Bernard Ngeneo, anggota tim yang dipimpin oleh antropolog Richard Leakey dan zoolog Meave Leakey tahun 1972, di Koobi Fora pada bagian timur Danau Rudolf (kini Danau Turkana) di Kenya. Nama ilmiah Homo rudolfensis diusulkan pada tahun 1986 oleh V. P. Alexeev untuk spesimen Skull 1470 (KNM ER 1470). Skull 1470 berusia sekitar 1.9 juta tahun.

Dari : Wikipedia Indonesia

Reade more >>

28 Mei 2010

Murabitun

Peta yang menunjukan wilayah kekuasaan Murabitun.

Murabitun atau Almoravid (dalam Arab المرابطون al-Murabitun, sing. مرابط Murabit), adalah dinasti Berber [1] yang berasal dari Sahara dan menyebar di wilayah Afrika Barat-Laut dan semenanjung Iberia selama abad ke-11.

Dibawah dinasti Moor, kekaisaran ini terbentang dari Maroko, Sahara Barat, Gibraltar, Tlemcen (di Aljazair), Senegal, Mali, Spanyol dan Portugal.


Dari : Wikipedia Indonesia

Reade more >>

Mamluk

Tentara berkuda Mamluk dilukis pada tahun 1810

Mamluk atau Mameluk (Bahasa Arab:مملوك, mamlūk (tunggal), مماليك, mamālīk (jamak)) adalah tentara budak yang telah memeluk Islam dan berdinas untuk khalifah Islam dan Kesultanan Ayyubi pada Abad Pertengahan. Mereka akhirnya menjadi tentara yang paling berkuasa dan juga pernah mendirikan Kesultanan Mamluk di Mesir.


Selayang pandang

Pasukan Mamluk pertama dikerahkan pada zaman Abbasiyyah pada abad ke-9. Bani Abbasiyyah merekrut tentara-tentara ini dari kawasan Kaukasus dan Laut Hitam dan mereka ini pada mulanya bukanlah orang Islam. Dari Laut Hitam direkrut bangsa Turki dan kebanyakan dari suku Kipchak.

Keistimewaan tentara Mamluk ini ialah mereka tidak mempunyai hubungan dengan golongan bangsawan atau pemerintah lain. Tentera-tentera Islam selalu setia kepada syekh, suku dan juga bangsawan mereka. Jika terdapat penentangan tentara Islam ini, cukup sulit bagi khalifah untuk menanganinya tanpa bantahan dari golongan bangsawan. Tentaa budak juga golongan asing dan merupakan lapisan yang terendah dalam masyarakat. Sehingga mereka tidak akan menentang khalifah dan mudah dijatuhkan hukuman jika menimbulkan masalah. Oleh karena itu, tentara Mamluk adalah aset terpenting dalam militer.

Organisasi

Setelah memeluk Islam, seorang Mamluk akan dilatih sebagai tentara berkuda. Mereka harus mematuhi Furisiyyah, sebuah aturan perilaku yang memasukkan nilai-nilai seperti keberanian dan kemurahan hati dan juga doktrin mengenai taktik perang berkuda, kemahiran menunggang kuda, kemahiran memanah dan juga kemahiran merawat luka dan cedera.

Tentara Mamluk ini hidup di dalam komunitas mereka sendiri saja. Masa lapang mereka diisi dengan permainan seperti memanah dan juga persembahan kemahiran bertempur. Latihan yang intensif dan ketat untuk anggota-anggota baru Mamluk juga akan memastikan bahawa kebudayaan Mamluk ini abadi.

Setelah tamat latihan, tentara Mamluk ini dimerdekakan tetapi mereka harus setia kepada khalifah atau sultan. Mereka mendapat perintah terus dari khalifah atau sultan. Tentara Mamluk selalu dikerahkan untuk menyelesaikan perselisihan antara suku setempat. Pemerintah setempat seperti amir juga mempunyai pasukan Mamluk sendiri tetapi lebih kecil dibandingkan pasukan Mamluk Khalifah atau Sultan.

Pada mulanya, status tentara Mamluk ini tidak boleh diwariskan dan anak lelaki tentara Mamluk dilarang mengikuti jejak langkah ayahnya. Di sebagian kawasan seperti Mesir, tentara Mamluk mulai menjalin hubungan dengan pemerintah setempat dan akhirnya mendapat pengaruh yang luas.

Kemajuan di bidang Ilmu kemiliteran

Pada era Dinasti Al-Mamluk produksi buku mengenai ilmu militer itu berkembang pesat. Sedangkan, pada zaman Shalahuddin, ada buku manual militer karya AT-Thurtusi (570 H/1174 M) yang membahas keberhasilan menaklukan Yerussalem. Semenjak awal Islam memang menaruh perhatian khusus mengenai soal perang. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah meminta agar para anak lelaki diajari berenang, gulat, dan berkuda. Berbagai kisah peperangan seperti legenda Daud dan Jalut juga dikisahkan dengan apik dalam Al-Qur'an. Bahkan, ada satu surat di Al-Qur'an yang berkisah tentang `heroisme’ kuda-kuda yang berlari kencang dalam kecamuk peperangan.

”Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya). Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi. Maka, ia menerbangkan debu dan menyerbu ke tengah kumpulan musuh.” (Al-‘aAdiyat 1-4).

Kaum muslim sebenarnya pun sudah menulis berbagai karya mengenai soal perang dan ilmu militer. Berbagai jenis buku mengenai ‘jihad’ dan pengenalan terhadap seluk beluk kuda, panahan, dan taktik militer. Salah satu buku yang terkenal dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The Catologue yang merupakan karya Ibnu Al-Nadim (wafat antara 380H-338 H/990-998 M).

Dalam karya itu, Al-Nadim menulis berbagai kategori mengenai cara menunggang kuda, menggunakan senjata, tentang menyusun pasukan, tentang berperang, dan menggunakan alat-alat persenjataan yang saat itu telah dipakai oleh semua bangsa. Karya semacam ini pun kemudian banyak muncul dan disusun pada masa Khalifah Abbasiyah, misalnya oleh Khalifah al-Manshur dan al-Ma’mun. Bahkan, pada periode kekuasaan Daulah Al-Mamluk produksi buku mengenai ilmu militer itu berkembang sangat pesat. Minat para penulis semakin terpacu dengan keinginan mereka untuk mempersembahkan sebuah karya kepada kepada para sultan yang menjadi penguasa saat itu. Pembahasan sering dibahas adalah mengenai seluk beluk yang berkaitan dengan serangan bangsa Mongol.

Pada zaman Shalahuddin, ada sebuah buku manual militer yang disusun oleh At-Tharsusi, sekitar tahun 570 H/1174 M. Buku ini membahas mengenai keberhasilan Shalahuddin di dalam memenangkan perang melawan bala tentara salib dan menaklukan Yerussalem. Buku ini ditulis dengan bahasa Arab, meski sang penulisnya orang Armenia. Manual yang ditulisnya selain berisi tentang penggunaan panah, juga membahas mengenai ‘mesin-mesin perang’ saat itu, seperti mangonel (pelempar batu), alat pendobrak, menara-menara pengintai, penempatan pasukan di medan perang, dan cara membuat baju besi. Buku ini semakin berharga karena dilengkapi dengan keterangan praktis bagaimana senjata itu digunakan.

Buku lain yang membahas mengenai militer adalah karya yang ditulis oleh Ali ibnu Abi Bakar Al Harawi (wafat 611 H/1214 M). Buku ini membahas secara detail mengenai soal taktik perang, organisasi militer, tata cara pengepungan, dan formasi tempur. Kalangan ahli militer di Barat menyebut buku ini sebagai sebuah penelitian yang lengkap tentang pasukan muslim di medan tempur dan dalam pengepungan. Pada lingkungan militer Daulah Mamluk menghasilkan banyak karya tentang militer, khususnya keahlian menunggang kuda atau fu'usiyyah. Dalam buku ini dibahas mengenai bagaimana cara seorang calon satria melatih diri dan kuda untuk berperang, cara menggunakan senjatanya, dan bagaimana mengatur pasukan berkuda atau kavaleri.

Contoh buku yang lain adalah karya Al-Aqsara’i (wafat74 H/1348 M) yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris menjadi An End to Questioning and Desiring (Further Knowledge) Concering the Science of Horsemenship. Buku ini lebih komplet karena tidak hanya membahas soal kuda, pasukan, dan senjata, namun juga membahas mengenai doktrin dan pembahasan pembagaian rampasan perang.

Layanan Pos Ala Dinasti Mamluk

Layanan pos di era kejayaan Islam tak hanya sekadar sebagai pengantar pesan. Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir pada 1250 M hingga 1517 M juga menjadikan pos sebagai alat pertahanan. Guna mencegah invasi pasukan tentara Mongol di bawah komando Hulagu Khan pada medio abad ke-13 M, para insinyur Mamluk membangun menara pengawas di sepanjang rute pos Irak hingga Mesir.

Di atas menara pengawas itu, selama 24 jam penuh para penjaga telah menyiapkan tanda-tanda bahaya. Jika bahaya mengancam di siang hari, petugas akan membakar kayu basah yang dapat mengepulkan asap hitam. Sedangkan di malam hari, petugas akan membakar kayu kering. Upaya itu ternyata tak sepenuhnya berhasil. Tentara Mongol mampu menembus Baghdad dan memorak-porandakan metropolis intelektual itu. Meski begitu, peringatan awal yang ditempatkan di sepanjang rute pos itu juga berhasil mencegah masuknya tentara Mongol ke Kairo, Mesir.

Hanya dalam waktu delapan jam, berita pasukan Mongol akan menyerbu Kairo sudah diperoleh pasukan tentara Muslim. Itu berarti, sama dengan waktu yang diperlukan untuk menerima telegram dari Baghdad ke Kairo di era modern. Berkat informasi berantai dari menara pengawas itu, pasukan Mamluk mampu memukul mundur tentara Mongol yang akan menginvasi Kairo. Menurut Paul Lunde, layanan pos melalui jalur darat pada era kekuasaan Dinasti Mamluk juga sempat terhenti ketika pasukan Tentara Salib memblokir rute pos. Meski begitu, penguasa Dinasti Mamluk tak kehabisan akal.

Sejak saat itu, kata dia, Dinasti Mamluk mulai menggunakan merpati pos. Dengan menggunakan burung merpati sebagai pengantar pesan, pasukan Tentara Salib tak dapat mencegah masuknya pesan dari Kairo ke Irak. Merpati pos mampu mengantarkan surat dari Kairo ke Baghdad dalam waktu dua hari, tutur Lunde. Sejak itu, peradaban Barat juga mulai meniru layanan pos dengan merpati seperti yang digunakan penguasa Dinasti Mamluk.

Lunde menuturkan, pada 1300 M Dinasti Mamluk memiliki tak kurang dari 1.900 merpati pos. Burung merpati itu sudah sangat terlatih dan teruji mampu mengirimkan pesan ketempat tujuan. Seorang tentara Jerman bernama Johan Schiltberger menuturkan kehebatan pasukan merpati pos yang dimiliki penguasa Dinasti Mamluk. Sultan Mamluk mengirim surat dengan merpati, sebab dia memiliki banyak musuh, cetus Schiltberger. Dinasti Mamluk memang bukan yang pertama menggunakan merpati pos. Penggunaan merpati untuk mengirimkan pesan kali pertama diterapkan peradaban Mesir kuno pada 2900 SM.

Pada masa kekuasaan Dinasti Mamluk, merpati pos juga berfungsi untuk mengirimkan pesanan pos parcel. Al-kisah, penguasa Mamluk sangat puas dengan kiriman buah ceri dari Lebanon yang dikirimkan ke Kairo dengan burung merpati. Setiap burung merpati membawa satu biji buah ceri yang dibungkus dengan kain sutra. Pada masa itu, sepasang burung merpati pos harganya mencapai 1.000 keping emas. Layanan merpati pos ala Dinasti Mamluk itu tercatat sebagai sistem komunikasi yang tercepat di abad pertengahan.

Masa Kekuasaan Daulah Mamalik di Mesir

Kalau ada negeri Islam yang selamat dari kehancuran akibat serangan-serangan bangsa Mongol, baik serangan Hulagu Khan maupun Timur Lenk, maka negeri itu adalah Mesir yang ketika itu berada di bawah kekuasaan dinasti Mamalik. Karena negeri ini terhindar dari kerhancuran, maka persambungan perkembangan peradaban dengan masa klasik relatif terlihat dan beberapa diantara prestasi yang pernah dicapai pada masa klasik bertahan di Mesir. Walaupun demikian, kemajuan yang dicapai oleh dinasti ini, masih di bawah prestasi yang pernah dicapai oleh umat Islam pada masa klasik. Hal itu mungkin karena metode berpikir tradisional sudah tertanam sangat kuat sejak berkembangnya aliran teologi 'Asy'ariyah, filsafat mendapat kecaman sejak pemikiran al- Ghazali mewarnai pemikiran mayoritas umat Islam, dan yang lebih penting lagi adalah karena Baghdad dengan fasilitas-fasilitas ilmiahnya yang banyak memberi inspirasi ke pusat-pusat peradaban Islam, hancur.

Mamalik adalah jamak dari Mamluk yang berarti budak. Dinasti Mamalik memang didirikan oleh para budak. Mereka pada mulanya adalah orang-orang yang ditawan oleh penguasa dinasti Ayyubiyah sebagai budak, kemudian dididik dan dijadikan tentaranya. Mereka ditempatkan pada kelompok tersendiri yang terpisah dari masyarakat. Oleh penguasa Ayyubiyah yang terakhir, al-Malik al-Salih, mereka dijadikan pengawal untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya. Pada masa penguasa ini, mereka mendapat hak-hak istimewa, baik dalam karier ketentaraan maupun dalam imbalan-imbalan material. Pada umumnya mereka berasal dari daerah Kaukasus dan Laut Kaspia. Di Mesir mereka ditempatkan di pulau Raudhah di Sungai Nil untuk menjalani latihan militer dan keagamaan. Karena itulah, mereka dikenal dengan julukan Mamluk Bahri. Saingan mereka dalam ketentaraan pada masa itu adalah tentara yang berasal dari suku Kurdi.

Ketika al-Malik al-Salih meninggal (1249 M), anaknya, Turansyah, naik tahta sebagai Sulthan. Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat kepada tentara asal Kurdi daripada mereka. Pada tahun 1250 M Mamalik di bawah pimpinan Aybak dan Baybars berhasil membunuh Turansyah. Istri al-Malik al-Salih, Syajarah al-Durr, seorang yang juga berasal dari kalangan Mamalik berusaha mengambil kendali pemerintahan, sesuai dengan kesepakatan golongan Mamalik itu. Kepemimpinan Syajarah al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan. Ia kemudian kawin dengan seorang tokoh Mamalik bernama Aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya sambil berharap dapat terus berkuasa di belakang tabir. Akan tetapi segera setelah itu Aybak membunuh Syajarah al-Durr dan mengambil sepenuhnya kendali pemerintahan. Pada mulanya, Aybak mengangkat seorang keturunan penguasa Ayyubiyah bernama Musa sebagai Sultan "syar'i" (formal) disamping dirinya yang bertindak sebagai penguasa yang sebenarnya. Namun, Musa akhirnya dibunuh oleh Aybak. Ini merupakan akhir dari dinasti Ayyubiyah di Mesir dan awal dari kekuasaan dinasti Mamalik.

Aybak berkuasa selama tujuh tahun (1250-1257 M). Setelah meninggal ia digantikan oleh anaknya, Ali yang masih berusia muda. Ali kemudian mengundurkan diri pada tahun 1259 M dan digantikan oleh wakilnya, Qutuz. Setelah Qutuz naik tahta, Baybars yang mengasingkan diri ke Syria karena tidak senang dengan kepemimpinan Aybak kembali ke Mesir. Di awal tahun 1260 M Mesir terancam serangan bangsa Mongol yang sudah berhasil menduduki hampir seluruh dunia Islam. Kedua tentara bertemu di Ayn Jalut, dan pada tanggal 13 September 1260 M, tentara Mamalik di bawah pimpinan Qutuz, Baybars dan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah Rahimahullah berhasil menghancurkan pasukan Mongol tersebut. Kemenangan atas tentara Mongol ini membuat kekuasaan Mamalik di Mesir menjadi tumpuan harapan umat Islam di sekitarnya. Penguasa-penguasa di Syria segera menyatakan sumpah setia kepada penguasa Mamalik.

Tidak lama setelah itu Qutuz meninggal dunia. Baybars, seorang pemimpin militer yang tangguh dan cerdas, diangkat oleh pasukannya menjadi Sultan (1260- 1277 M). Ia adalah sultan terbesar dan termasyhur diantara Sultan Mamalik. Ia pula yang dipandang sebagai pembangun hakiki dinasti Mamalik.

Sejarah daulah ini hanya berlangsung sampai tahun 1517 M, ketika dikalahkan oleh Bani Utsmani, Daulah ini dibagi menjadi dua periode :

Pertama, periode kekuasaan Mamluk Bahri, sejak berdirinya (1250 M) sampai berakhirnya pemerintahan Hajji II tahun 1389 M.

Kedua periode kekuasaan Mamluk Burji, sejak berkuasanya Burquq untuk kedua kalinya tahun 1389 M sampai kerajaan ini dikalahkan oleh Bani Utsmani tahun 1517 M.

Daulah Mamalik membawa warna baru dalam sejarah politik Islam. Pemerintahan dinasti ini bersifat oligarki militer, kecuali dalam waktu yang singkat ketika Qalawun (1280-1290 M) menerapkan pergantian sultan secara turun temurun. Anak Qalawun berkuasa hanya empat tahun, karena kekuasaannya direbut oleh Kitbugha (1295- 1297 M). Sistem pemerintahan oligarki ini banyak mendatangkan kemajuan di Mesir. Kedudukan amir menjadi sangat penting. Para amir berkompetisi dalam prestasi, karena mereka merupakan kandidat sultan. Kemajuan-kemajuan itu dicapai dalam bebagai bidang, seperti konsolidasi pemerintahan, perekonomian, dan ilmu pengetahuan.

Dalam bidang pemerintahan, kemenangan dinasti Mamalik atas tentara Mongol di 'Ayn al-Jalut menjadi modal besar untuk menguasai daerah-daerah sekitarnya. Banyak penguasa-penguasa dinasti kecil menyatakan setia kepada kerajaan ini. Untuk menjalankan pemerintahan di dalam negeri, Baybars mengangkat kelompok militer sebagai elit politik. Disamping itu, untuk memperoleh simpati dari kerajaan-kerajaan Islam lainnya, Baybars membaiat keturunan Bani Abbas yang berhasil meloloskan diri dari serangan bangsa Mongol, al-Mustanshir sebagai khalifah. Dengan demikian, khilafah Abbasiyah, setelah dihancurkan oleh tentara Hulaghu di Baghdad, berhasil dipertahankan oleh daulah ini dengan Kairo sebagai pusatnya. Sementara itu, kekuatan-kekuatan yang dapat mengancam kekuasaan Baybars dapat dilumpuhkan, seperti tentara Salib di sepanjang Laut Tengah, Assasin di pegunungan Syria, Cyrenia (tempat berkuasanya orang-orang Armenia), dan kapal-kapal Mongol di Anatolia.

Dalam bidang ekonomi, dinasti Mamalik membuka hubungan dagang dengan Perancis dan Italia melalui perluasan jalur perdagangan yang sudah dirintis oleh dinasti Fathimiyah di Mesir sebelumnya. Jatuhnya Baghdad menjadikan kota Kairo sebagai jalur perdagangan antara Asia dan Eropa, dan menjadi lebih penting karena Kairo menghubungkan jalur perdagangan Laut Merah dan Laut Tengah dengan Eropa. Disamping itu, hasil pertanian juga meningkat. Keberhasilan dalam bidang ekonomi ini didukung oleh pembangunan jaringan transportasi dan komunikasi antarkota, baik laut maupun darat. Ketangguhan angkatan laut Mamalik sangat membantu pengembangan perekonomiannya.

Di bidang ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuwan-ilmuwan asal Baghdad dari serangan tentara Mongol. Karena itu, ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir, seperti sejarah, kedokteran, astronomi, matematika, dan ilmu agama. Dalam ilmu sejarah tercatat nama-nama besar, seperti Ibn Khalikan, Ibn Taghribardi, dan Ibn Khaldun. Di bidang astronomi dikenal nama Nashiruddin ath-Thusi. Di bidang matematika Abul Faraj al-'Ibry . Dalam bidang kedokteran: Abul Hasan 'Ali an-Nafis, penemu susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia, Abdul Mun'im ad-Dimyathi, seorang dokter hewan, dan Ar-Razi’, perintis psykoterapi. Dalam bidang opthalmologi dikenal nama Shalahuddin ibn Yusuf. Sedangkan dalam bidang ilmu keagamaan, tersohor nama Syaikhul Islam ibn Taimiyah Rahimahullah, seorang mujaddid, mujahid dan ahli hadits dalam Islam, Imam As-Suyuthi Rahimahullah yang menguasai banyak ilmu keagamaan, Imam Ibn Hajar al-'Asqalani Rahimahullah dalam ilmu hadits, ilmu fiqih dan lain-lain.

Daulah Mamalik juga banyak mengalami kemajuan di bidang arsitektur. Banyak arsitek didatangkan ke Mesir untuk membangun sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang indah. Bangunan-bangunan lain yang didirikan pada masa ini diantaranya adalah rumah sakit, museum, perpustakaan, villa-villa, kubah dan menara masjid.

Kemajuan-kemajuan itu tercapai berkat kepribadian dan wibawa Sulthan yang tinggi, solidaritas sesama militer yang kuat, dan stabilitas negara yang aman dari gangguan. Akan tetapi, ketika faktor-faktor tersebut menghilang, daulah Mamalik sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. Semenjak masuknya budak-budak dari Sirkasia yang kemudian dikenal dengan nama Mamluk Burji yang untuk pertama kalinya dibawa oleh Qalawun, solidaritas antar sesama militer menurun, terutama setelah Mamluk Burji berkuasa. Banyak penguasa Mamluk Burji yang bermoral rendah dan tidak menyukai ilmu pengetahuan. Kemewahan dan kebiasaan berfoya-foya di kalangan penguasa menyebabkan pajak dinaikkan. Akibatnya, semangat kerja rakyat menurun dan perekonomian negara tidak stabil. Disamping itu, ditemukannya Tanjung Harapan oleh kaum Eropa tahun 1498 M, menyebabkan jalur perdagangan Asia-Eropa melalui Mesir menurun fungsinya. Kondisi ini diperparah oleh datangnya kemarau panjang dan berjangkitnya wabah penyakit.

Di pihak lain, suatu kekuatan politik baru yang besar muncul sebagai tantangan bagi Mamalik, yaitu Daulah Bani Utsmani. Kerajaan inilah yang mengakhiri riwayat Mamalik di Mesir. Dinasti Mamalik kalah melawan pasukan Utsmani dalam pertempuran menentukan di luar kota Kairo tahun 1517 M . Sejak itu wilayah Mesir berada di bawah kekuasaan Kesultanan Bani Utsmani sebagai salah satu propinsinya. Wallahul Musta’an.

Pembubaran Mamalik

Dimasa kekuasaan Muhammad Ali Mamalik dibubarkan melalui pembantaian dalam sebuah pesta kenegaraan di Al-Qal'ah pada 11 Maret 1811 M. Ketika para perwiwa tinggi mamlik telah berkumpul di pesta kenegaraan Muhammad Ali memrintahkan para pengawalnya untuk mengunci semua pintu dan dan dengan serentak menembaki para perwira Mamalik, Jumlah perwira yang dibantai mencapai 1000 orang tanpa seorangpun dari mereka dapat lolos. Pembantaian ini memang keji namun Muhammad Ali memandang pada sejarah Mamalik yang sering melakukan penghianatan dan penggulingan kekuasaan berdarah.

Referensi :

1.Kitab At-Tarikh,Ibn Khaldun.

2.Tarikh Khulafra',As-Suyuthi.

3.Al-Bidaayaah Wan Nihaayah,Ibn Katsir.

4.Sejarah Kerajaan Mamalik,Muhammad Syu'ub,Penerbit PT.Bulan Bintang.

5.1000 Peristiwa Dalam Islam,Abdul Hakim Al-Afifi.Pustaka Hidayah.Bandung. 2002.

Pranala luar

Reade more >>

Kekaisaran Mali

Manden Kurufa
Kekaisaran Mali
Kekaisaran
Flag
12351610-an Flag

Flag
Location of  Kekaisaran Mali
Kekuasaan Kekaisaran Mali tahun 1350
Ibu kota Niani; nantinya Ka-ba
Bahasa Mandinkan
Agama Pemujaan nenek moyang dan Islam
Pemerintahan Monarki Konstitusional
Mansa (kaisar)
- 1235-1255 Mari Djata I (pertama)
- kira-kira 17 tahun Mahmud IV (terakhir)
Legislatur Gbara
Sejarah
- Didirikan 1235
- Ibukota dipindah dari Niani ke Kangaba 1559
- Runtuhnya negara dan terbagi antara anak-anak kaisar 1610-an
Luas
- 1380[1] 1.100.000 km² (424.712 sq mi)
Populasi
- Perkiraan 1380[1] 20.000.000
Kepadatan penduduk 18,2 /km² (47,1 /sq mi)
Mata uang Emas
(Garam, tembaga dan cypraea juga umum digunakan)
Simbol Negara: Elang
Binatang suci:Elang dan beberapa hewan lain bergantung dari setiap klan yang memerintah (singa, babi hutan, dll)

Kekaisaran Mali dikenal juga sebagai Kekaisaran Manding atau Manden Kurufa adalah suatu peradaban Afrika Barat yang berasal dari bangsa Mandika pada abad pertengahan sekitar abad ke 1235 sampai abad 1610. Kekaisaran ini didirikan oleh Sundiata Keita, kekaisaran Mali juga menjadi terkenal karena kekayaan raja-raja penguasanya, terutama Raja Mansa Musa I. Kekaisaran Mali memiliki pengaruh yang besar untuk kebudayaan Afrika Barat, karena menyebarluaskan pemakaian bahasa, hukum, dan adat istiadat yang diterapkan di daerah tersebut kepada daerah lainnya di sepanjang sungai Niger.[2] Pada puncak kejayaannya, pejabat dan penguasa di Kekaisaran Mali dianugrahkan dengan gelar kehormatan yang saat itu dikenal sebagai "penguasa yang paling mulia dan terkaya di diantara penguasa lainnya".[3] Kekuasaan kekaisaran Mali meliputi wilayah yang lebih luas dari Eropa Barat dan terdiri dari berbagai kerajaan boneka dan terbagi menjadi provinsi-provinsi.


Manden

Manden adalah daerah tempat Kekaisaran Mali bermula dan berkembang[4] . Nama Manden diperoleh dari penduduknya masa itu yang dijuluki Mandinka (Manden’ka dengan “ka” berarti orang),[5] yang terdiri dari Guinea utara dan Mali selatan modern. Kekaisaran ini pada mulanya berdiri sebagai federasi Mandinka yang disebut Manden Kurufa (secara harfiah berarti Federasi Manden), tetapi federasi ini kemudian berkembang menjadi kekaisaran yang memerintah jutaan orang yang berasal dari hampir semua grup etnis yang mungkin terdapat di Afrika Barat.

Etimologi

Asal usul penamaan kekaisaran Mali masih diperdebatkan dalam lingkaran ilmiah di seluruh dunia. Meskipun nama “Mali” masih diperdebatkan, tidak ada keraguan tentang proses nama tersebut memasuki kosakata regional. Seperti yang disebut di atas ini, bangsa Mandinka pada abad pertengahan merujuk kepada kampung halaman etnis mereka sebagai “Manden”.[4]

Di antara banyak grup etnis yang berbeda yang mengelilingi Manden terdapat grup penutur Bahasa Pulaar di Macina, Tekrur dan Fouta Djallon. Dalam bahasa Pulaar, Mandinka dari Manden menjadi Malinke dari Mali.[6] Meskipun orang Mandinka umumnya merujuk tanah dan ibukota provinsi mereka sebagai Manden, Fulan, kawula Mali yang semi-nomadik yang tinggal di sebelah barat wilayah tengah negara (Tekrur), selatan (Fouta Djallon) dan perbatasan timur (Macina) mempopulerkan nama Mali untuk kerajaan ini (yang kemudian menjadi kekaisaran) pada Abad Pertengahan.

Mali pra-imperial

Kerajaan Mandinka di Mali atau Manden telah eksis beberapa abad sebelum unifikasi Sundiata sebagai negara kecil di selatan kekaisaran Soninké di Wagadou. Kekaisaran Soninke ini lebih dikenal sebagai kekaisaran Ghana.[7] Wilayah ini terdiri dari pegunungan, sabana, dan hutan yang menyediakan perlindungan dan sumber daya ideal bagi populasi pemburu.[8] Penduduk yang tidak tinggal di pegunungan membentuk negara-kota kecil seperti Toron, Ka-Ba dan Niani. Hampir setiap kaisar Mali dari Dinasti Keita melacak garis silsilahnya kembali ke Bilal,[9] muadin nabi Islam, Muhammad. Selama abad pertengahan, terdapat kebiasaan bagi penguasa Kristen dan Muslim untuk merunut garis darah mereka ke figur yang sangat penting dalam sejarah. Meskipun garis silsilah dinasti Keita meragukan, masing-masing para juru pencatat kejadian lisan menyediakan daftar penguasa Keita dari Lawalo (menurut dugaan salah satu dari tujuh anak Bilal yang menetap di Mali) sampai Maghan Kon Fatta (ayah Sundiata Keita).

Provinsi Kangaba

Selama puncak kekuasaan Wagadou, tanah Manden menjadi salah satu provinsinya.[10] Negara-kota Manden di Ka-ba (Kangaba modern) menjadi ibukota dan nama provinsi ini. Selama awal abad ke-11, raja-raja Mandinka yang disebut dengan gelar faama menguasai Manden dari Ka-ba dalam nama Ghana.[11]

Dua belas kerajaan

Kekuasaan Wagadou terhadap Manden terhalang akibat perang selama 14 tahun melawan Murabitun, orang-orang Muslim yang kebanyakan keturunan Berber dari Afrika Utara. Jendral Murabitun, Abu Bekr menaklukkan dan membumihanguskan ibukota Wagadou, Kumbi Saleh tahun 1076 dan mengakhiri dominasinya terhadap wilayah ini.[12] Namun, Murabitun tidak dapat mempertahankan wilayah ini, yang dengan cepat direbut kembali oleh Soninké yang telah melemah. Provinsi Kangaba yang bebas dari pengaruh Soninké dan Berber, menyerpih menjadi dua belas kerajaan dengan maghan (berarti pangeran) atau faama sendiri.[13] Manden terbagi dua dengan wilayah Dodougou di timur laut dan wilayah Kri di barat daya.[14]Kerajaan kecil Niani adalah satu dari beberapa wilayah Kri di Manden.

Penguasa Kaniaga

Kira-kira pada tahun 1140, kerajaan Sosso di Kaniaga, bekas vazal (negara yang berdaulat dibawah negara) Wagadou, mulai menaklukkan wilayah penguasa lamanya. Pada tahun 1180, Sosso bahkan telah menundukkan Wagadou, memaksa Soninké membayar upeti. Pada tahun 1203, raja Sosso, Soumaoro, dari klan Kanté naik tahta dan dilaporkan meneror Manden dengan mencuri wanita dan harta benda baik dari Dodougou dan Kri.[15]

Pangeran Singa

Selama bangkitnya Kaniaga, Sundiata dari klan Keita lahir sekitar tahun 1217. Ia adalah anak dari faama Niani, Nare Fa (juga diketahui sebagai Maghan Kon Fatta yang berarti pangeran tampan). Ibu Sundiata adalah istri kedua Maghan Kon Fatta, Sogolon Kédjou.[9] Wanita ini adalah orang bungkuk dari negeri Do, selatan Mali. Anak dari pernikahannya menerima nama pertama ibunya (Sogolon) dan nama keluarga ayahnya (Djata). Dalam bahasa sehari-hari Mandinka yang diucapkan dengan cepat, namanya kemudian menjadi Sondjata atau Sundjata.[9] Versi bahasa Inggris nama ini, Sundiata, juga populer.

Maghan Sundiata diramalkan akan menjadi penakluk besar. Orangtuanya takut karena pangeran tidak memiliki masa kecil yang menjanjikan. Maghan Sundiata, menurut tradisi lisan, tidak dapat berjalan sampai ia berusia tujuh tahun.[13] Namun, ketika Sundiata dapat menggunakan kakinya, ia menjadi kuat dan sangat dihormati. Hal ini tidak terjadi sebelum ayahnya meninggal. Meskipun faama Niani berharap untuk menghormati ramalan dan memahkotai Sundiata, anak dari istri pertamanya Sassouma Bérété dimahkotai. Segera anak Sassouma Dankaran Touman mengambil alih tahta, ia dan ibunya memaksa Sundiata yang kepopulerannya meningkat dibuang bersama dengan ibunya dan dua saudara kandung perempuannya. Sebelum Dankaran Touman dan ibunya dapat menikmati kekuatan mereka yang tidak terhalangi, Raja Soumaoro mencapai Niani dan memaksa Dankaran meninggalkan Kissidougou.[9]

Setelah bertahun-tahun dalam pembuangan, pertama di istana Wagadou dan kemudian di Mema, Sundiata dicari oleh delegasi Niani dan diminta untuk mengalahkan Sosso dan membebaskan kerajaan Manden selamanya.

Pertempuran Kirina

Setelah kembali dengan angkatan bersenjata gabungan Mema, Wagadou, dan semua negara-kota Mandinka yang melawan, Maghan Sundiata memimpin revolusi melawan kerajaan Kaniaga sekitar tahun 1234. Pasukan gabungan Manden utara dan selatan menaklukan angkatan bersenjata Sosso dalam pertempuran Kirina (nantinya dikenal sebagai Krina) kira-kira tahun 1235.[13] Kemenangan ini membuat jatuhnya kerajaan Kaniaga dan bangkitnya kekaisaran Mali. Setelah kemenangan, raja Soumaoro menghilang, dan Mandinka memasuki kota terakhir Sosso. Maghan Sundiata ditetapkan sebagai “faama dari semua faama” dan menerima gelar “mansa”, yang secara kasar dapat diterjemahkan sebagai kaisar. Pada usia 18 tahun, ia menerima kekuasaan terhadap seluruh duabelas kerajaan pada persekutuan yang diketahui sebagai Manden Kurufa. Ia dimahkotai dengan nama Mari Djata dan menjadi kaisar Mandinka pertama.[13]

Organisasi

Manden Kurufa yang didirikan oleh Mari Djata I terdari dari “tiga negara bebas yang bersekutu" di Mali, Mema dan Wagadou ditambah Dua Belas Pintu Mali.[9] Penting untuk diingat bahwa Mali, merujuk pada negara-kota di Niani.

Dua Belas Pintu Mali adalah koalisi wilayah yang ditaklukkan atau wilayah sekutu, kebanyakan di Manden, yang bersumpah setia kepada Sundiata dan keturunannya. Dengan menikamkan tombak mereka ke dalam tanah di depan tahta Sundiata, kedua belas raja melepaskan kerajaannya kepada dinasti Keita.[9] Sebagai imbalan terhadap kesetiaan mereka, mereka diangkat menjadi “farbas”, kombinasi kata-kata Mandinka, "farin" dan "ba" (farin besar).[16] Farin adalah istilah umum untuk komandan utara pada saat itu. Farbas tersebut menguasai kerajaan lama mereka atas nama mansa dengan mempertahankan sebagian besar wewenang yang mereka pegang sebelum memilih bergabung dengan Manden Kurufa.

Dewan Besar

Dewan Besar atau Gbara akan menjadi badan musyawarah Mandinka sampai runtuhnya Manden Kurufa tahun 1645. Pada pertemuan pertamanya, di Kouroukan Fouga (Divisi Dunia), terdapat 29 delegasi klan diketuai oleh belen-tigui (tuan upacara). Bentuk terakhir Gbara, menurut tradisi Guinea utara yang ada, terdiri aas 32 posisi yang diduduki oleh 28 klan.[17]

Reformasi sosial, ekonomi dan pemerintahan

Kouroukan Fouga juga melakukan reformasi sosial dan politik dengan larangan terhadap penyiksaan tahanan dan budak, memasukkan wanita ke dalam pemerintahan dan menempatkan sistem olok-olok antara klan yang dengan jelas menyatakan siapa yang menyatakan tentang apa pada siapa. Sundiata juga membagi tanah di antara rakyatnya, memastikan semua orang memiliki tempat di kekaisaran dan memperbaiki nilai tukar untuk produk.

Mari Djata I

Mansa Mari Djata mengawasi penaklukan dan penggabungan beberapa tokoh lokal penting di kekaisaran Mali. Ketika kampanye selesai, kekaisarannya terbentang 1.000 mil dari timur ke barat dengan perbatasan itu adalah tikungan Sungai Senegal dan Sungai Niger.[18] Setelah menyatukan Manden, ia menambah ladang emas Wangara yang menjadi perbatasan selatan. Kota perdagangan utara Oualata dan Audaghost juga ditaklukkan dan menjadi bagian dari perbatasan utara negara baru. Wagadou dan Mema menjadi sekutu junior pada kerajaan dan bagian dari inti imperium. Wilayah Bambougou, Jalo (Fouta Djallon), dan Kaabu berturut-turut dimasukkan kedalam Mali oleh Fakoli Koroma,[13] Fran Kamara, dan Tiramakhan Traore,[19] .

Mali Imperial

Terdapat 21 mansa kekaisaran Mali yang diketahui setelah Mari Djata I dan sekitar dua atau tiga lainnya yang masih harus diungkapkan. Nama pemimpin tersebut muncul dalam sejarah melalui djeli dan keturunan modern dinasti Keita di Kangaba. Yang membedakan para penguasa tersebut dari sang pendiri, selain dari peran sejarah dalam mendirikan negara, adalah transformasi Manden Kurufa menjadi kekaisaran Manden. Tidak puas hanya menguasai kawula Manding saja yang disatukan oleh kemenangan Mari Djata I, para mansa tersebut juga kemudian menaklukkan dan mencaplok Bangsa Peuhl, Wolof, Serer, Bamana, Songhai, Tuareg, dan bangsa-bangsa lain ke dalam sebuah kekaisaran yang besar.

Garis keturunan Djata 1250-1275

Tiga penerus pertama Mari Djata semuanya mengklaim dengan hak darah atau sesuatu yang dekat dengannya. Pada periode 25 tahun in terlihat pendapatan luar biasa untuk para mansa dan awal persaingan internal sengit yang hampir mengakhiri kekaisaran.

Ouali I

Setelah kematian Mari Djata tahun 1255, adat menentukan bahwa anak lelakinya naik tahta dengan mengasumsikan bahwa dia sudah cukup umur. Namun, Yérélinkon masih kecil ketika ayahnya mangkat.[20] Manding Bory, saudara tiri Mari Djata dan kankoro-sigui (wazir atau perdana menteri), seharusnya dinobatkan menurut Kouroukan Fouga. Anak laki-laki Mari Djata menguasai tahta dan dimahkotai sebagai Mansa Ouali (juga diucapkan “Wali”).

Mansa Ouali ternyata adalah kaisar yang baik dengan menambah kekuasaan kekaisaran Mali, termasuk provinsi Bati dan Casa di Gambia. Ia juga menguasai provinsi Bambuk dan Bondou yang memproduksi emas. Provinsi tengah Konkodougou didirikan. Kerajaan Songhai di Gao juga ditaklukan untuk pertama kalinya dalam periode ini. [12]

Selain penaklukan militer, Ouali juga melakukan reformasi pertanian terhadap kekaisaran dengan mempekerjakan pasukan menjadi petani di provinsi Gambia yang baru direbut. Tepat sebelum kematiannya tahun 1270, Ouali melaksanakan haji ke Mekkah untuk menguatkan hubungan dengan pedagang Afrika Utara dan Muslim. [12]

Putra Jendral

Sebagai kebijakan mengendalikan dan memberi penghargaan jenderalnya, Mari Djata mengadopsi anak lelaki mereka. [13] Anak-anak tersebut diasuh di istana mansa dan menjadi keita ketika dewasa. Karena melihat tahta sebagai hak mereka, dua anak Mari Djata yang diadopsi saling berperang antara satu dengan yang lainnya. Perang ini hampir menghancurkan apa yang dibangun oleh dua mansa pertama. Anak pertama yang menguasai tahta adalah Mansa Ouati (juga disebut “Wati) tahun 1270.[21] Menurut djeli, ia berkuasa selama empat tahun. Ia adalah orang yang boros dan berkuasa dengan kejam. Dengan kematiannya tahun 1274, anak angkat lainnya menguasai tahta.[21] Mansa Khalifa diingat sebagai penguasa yang lebih buruk dari Ouati. Ia memerintah sama buruknya dan dilaporkan menembakan panah ke orang yang lewat dari atap istananya. Ia dibunuh, kemungkinan atas perintah Gbara, dan digantikan oleh Manding Bory tahun 1275.[22]

Mansa Kerajaan 1275-1300

Setelah kekacauan pada masa kekuasaan Ouali dan Khalifa, beberapa pejabat istana yang memiliki hubungan dekat dengan Mari Djata berkuasa (atau memerintah). Mereka mulai mengembalikan keanggunan kekaisaran Mali dan menyiapkannya untuk sebuah zaman keemasan para pemimpinnya.

Abubakari I

Manding Bory dimahkotai dengan nama Mansa Abubakari (bentuk Manding dari nama Muslim, Abu Bakr).[13] Ibu Mansa Abubakari adalah Namandjé,[13] istri ketiga Maghan Kon Fatta. Sebelum menjadi mansa, Abubakari menjadi salah satu jendral saudara lelakinya dan nantinya menjadi kankoro-sigui saudara laki-lakinya. Sedikit yang diketahui mengenai kekuasaan Abubakari I, tetapi ia berhasil menghentikan berkurangnya kekayaan Mali.

Sakoura

Pada tahun 1285, seorang budak istana dibebaskan oleh Mari Djata yang juga telah menjabat sebagai seorang jenderal yang merebut takhta Mali.[12] Kekuasaan Mansa Sakoura (juga diucapkan Sakura) bermanfaat meskipun terdapat gonjang-ganjing politik. Ia menambah penaklukan pertama Mali sejak kekuasaan Ouali termasuk provinsi Tekrour dan Diara, bekas provinsi Wagadou. Penaklukannya tidak berhenti pada batas Wagadou saja. Ia berkampanye ke Senegal dan menguasai provinsi Wolof milik Dyolof dan lalu pergi ke timur untuk menguasai wilayah Takedda yang merupakan produsen tembaga. Ia juga menaklukan Macina dan menyerang Gao untuk menekan pemberontakan pertama melawan Mali.[12] Mansa Sakoura lebih dari hanya seorang prajurit belaka. Ia melaksanakan haji dan membuka negosiasi perdagangan langsung dengan Tripoli dan Moroko.[12]

Mansa Sakoura dibunuh ketika kembali dari Mekkah di atau sekitar Djibouti sekarang oleh pasukan Danakil yang mencoba merampoknya.[23] Pembantu kaisar membawa tubuhnya kembali melalu wilayah Ouaddai dan ke Kanem, tempat salah satu utusan kekaisaran yang dikirim ke Mali dengan berita kematian Sakoura. Ketika tubuhnya tiba di Niani, ia dimakamkan secara agung meskipun ia memiliki akar budak.[23]

Garis silsilah Kolonkan 1300-1312

Gbara memilih Ko Mamadi sebagai mansa selanjutnya tahun 1300. Ia adalah mansa pertama dari garis penguasa baru yang secara langsung menurun dari saudara perempuan Mari Djata, Kolonkan.[13] Namun, melihat bagaimana pemimpin tersebut membagi darah Maghan Kon Fatta, mereka dianggap sebagai Keita sah. Bahkan Sakoura, dengan sejarah menjadi budak dalam keluarga Djata, dianggap sebagai seorang Keita; sehingga garis Bilal masih perlu dipatahkan.

Selama garis silsilah Kolonkan, karakteristik zaman keemasan Mali mulai muncul. Dengan menangani pembangunan Sakoura dan Abubakari I, mansa Kolonkan mengarahkan Mali dengan selamat ke puncak kejayaannya.

Ekonomi

Kekaisaran Mali tumbuh subur karena perdagangan diatas segalanya. Kekaisaran ini memiliki tiga tambang emas besar di perbatasannya, tidak seperti kekaisaran Ghana, yang hanya merupakan tempat transit emas. Kekaisaran ini memberi pajak pada setiap ons emas atau garam yang memasuki perbatasannya. Pada awal abad ke-14, Mali adalah sumber dari hampir setengah emas Dunia Lama yang diekspor dari emas di Bambuk, Boure dan Galam.[12] Tidak terdapat mata uang standar, tetapi beberapa bentuk penting untuk wilayah ini.

Emas
Mansa Musa digambarkan memegang gumpal emas.

Gumpal emas merupakan kepemilikan eksklusif mansa, dan ilegal untuk dijual dalam perbatasannya. Semua emas segera diberikan ke perbendaharaan kekaisaran dengan kembali nilai setara debu emas. Debu emas telah ditimbang dan dikantongi untuk penggunaan sejak kekuasaan kekaisaran Ghana. Mali meminjam praktek untuk membendung inflasi bahan, karena hal ini penting terhadap region. Pengukuran emas yang paling umum adalah ambigu mithqal (4.5 gram emas).[13] Istilah ini digunakan dengan dipertukarkan dengan dinar, walaupun masih belum jelas jika mata uang koin digunakan di kekaisaran ini. Debu emas digunakan di seluruh kekaisaran, tetapi tidak dihargai dengan seimbang di semua wilayah.

Garam
Suku Tuareg merupakan dan masih menjadi bagian dari perdagangan garam di Sahara.

Satuan besar pertukaran selanjutnya di kekaisaran Mali adalah garam. Garam dipotong menjadi kepingan dan dihabiskan untuk sumber daya yang dekat dengan keseimbangan kemampuan pembelian di kekaisaran.[13] Sementara garam sebaik emas di utara, garam lebih baik lagi di selatan. Orang dari selatan berdagang garam untuk makanan mereka, tetapi garam sangat langka.[24] Wilayah utara pada sisi lain tidak kekurangan garam. Setiap tahun, pedagang memasuki Mali melalui Oualata dengan unta membawa garam untuk dijual di Niani. Menurut sejarawan, pada periode ini, unta pengangkut garam dapat dihargai sebesar 10 dinar di sebelah utara dan 20 sampai 40 di sebelah selatan.[13]

Tembaga

Tembaga juga merupakan komoditas berharga di kekaisaran Mali. Perunggu, yang diperdagangkan dalam batang, ditambang dari Takedda di utara dan diperdagangkan di selatan untuk emas. Sumber kontemporer mengklaim 60 batang perunggu telah diperdagangkan untuk 100 dinar.[13]

Militer

Jumlah dan frekuensi penaklukan pada akhir abad ke-13 dan selama abad ke-14 menandai mansa Kolonkan diwarisi dan atau mengembangkan militer. Dengan tidak adanya mansa khusus yang pernah dihargai dengan pengaturan mesin perang Manding, militer tidak dapat berkembang sampai bagian-bagian legendaris yang dinyatakan oleh rakyatnya tanpa pendapatan mantap dan pemerintahan stabil. Dengan strategis, kekaisaran Mali mengalami hal itu dari tahun 1275 sampai mansa Kolonkan pertama tahun 1300.

Kekuatan

Kekaisaran Mali memiliki angkatan bersenjata profesional untuk menjaga perbatasannya. Seluruh negara dimobilisasikan dengan tiap suku diharuskan menyediakan kuota umur prajurit laki-laki.[13] Sejarawan kontemporer kini selama puncak dan mundurnya kekaisaran Mali mencatat angkatan bersenjata Mali memiliki jumlah 100.000 dengan 10.000 dari jumlah tersebut dijadikan kavaleri.[13] Dengan bantuan suku di sungai, angkatan bersenjata ini dapat didistribusikan di seluruh kerajaan dalam peringatan pendek.[25]

Divisi

Pasukan terbagi menjadi angkatan bersenjata utara dan selatan. Angkatan bersenjata utara, dibawah komando farin (komandan utara) berpatroli di kota perbatasan Soura.[13] Angkatan bersenjata selatan, dibawah komando Sankar (sebutan untuk penguasa di dekat sungai Sankarani),[13] dikomandokan dari kota Zouma. Farin-Soura dan Sankar-Zouma keduanya ditunjuk oleh mansa dan dipertanggung-jawabkan hanya kepadanya

Infantri

Seorang infantri, yang bersenjata (panah, tombak, dan lain-lain), disebut sofa.[9] Sofa diatur kedalam satuan suku dibawah kepemimpinan perwira yang disebut kelé-kun-tigui atau "kepala suku perang".

Kelé-kun-tigui dapat berada di pos yang sama atau berbeda dari kun-tigui (kepala suku). Kun-Tigui menguasai penuh seluruh suku dan bertanggung jawab untuk mengisi kuota pasukan yang harus dimasukan sukunya untuk pertahanan Mali. Tanggung jawab ini merupakan tugas menunjuk atau menjadi kelé-kun-tigui suku. Meskipun mereka berkuasa terhadap pasukan infantri suku mereka sendiri, kelé-kun-tigui lebih sering bertempur dengan kuda.

Dibawah kelé-kun-tigui adalah dua perwira. Perwira paling junior adalah kelé-kulu-kun-tigui yang mengkomando pasukan infantri terkecil yang disebut kelé-kulu yang berarti "tumpukan perang" yang didalamnya terdapat sepuluh sampai dua puluh orang. Pasukan sepuluh kelé-kulus (100 sampai 200 infantri" disebut kelé-bolo berarti "senjata perang". Perwira yang bertugas terhadap pasukan ini disebut kelé-bolo-kun-tigui.[26]

Kavaleri
Figur Terracotta Equestria Djenné yang ditemukan di wilayah kekaisaran Mali.

Pasukan kavaleri disebut Mandekalu yang melayani sama setara jika elemen tentara tidak lebih penting. Seperti sekarang, kuda mahal dan hanya bangsawan yang membawa kuda kedalam pertempuran. Pasukan kavaleri Mandinka terdiri dari 50 pasukan berkuda yang disebut seré yang dikomandokan oleh kelé-kun-tigui. Kélé-Kun-Tigui, seperti namanya, adalah pasukan profesional dan memiliki peringkat tertinggi atas lapangan dari Farin atau Sankar.

Perlengkapan

Sofa umumnya dipersenjatai dengan perisai besar yang dibuat dari kayu atau kulit binatang dan tombak yang disebut tamba. Pemanah membentuk bagian besar sofa. Tiga pemanah mendukung satu penombak merupakan rasio di Kaabu dan Gambia pada pertengahan abad ke-16. Pemanah Mandinka, yang dilengkapi dengan dua tabung panah dan perisai, menggunakan panah berujung besi yang berduri dan biasanya beracun. Mereka juga menggunakan panah berapi untuk peperangan. Sementara tombak dan panah merupakan dukungan utama sofa, pedang dan tombak manufaktur lokal dan asing merupakan persenjataan pilihan Mandekalu. Senjata umum prajurit Mandekalu lainnya adalah lembing beracun yang digunakan dalam pertempuran. Pasukan berkuda kekaisaran Mali juga menggunakan baju baja untuk pertahanan dan perisai yang mirip dengan perisai sofa.

Mansa Gao

Ko Mamadi dimahkotai sebagai Mansa Gao dan berkuasa atas kekaisaran yang berhasil tanpa adanya krisis. Anaknya, Mansa Mohammed ibn Gao, naik tahta lima tahun kemudian dan meneruskan stabilitas Kolonkan.[13]

Abubakari II

Penguasa Kolonkan terakhir, Bata Manding Bory, dimahkotai sebagai Mansa Abubakari II pada tahun 1310.[13] Ia meneruskan gaya kekuasaan non-militan yang mengkarakterisasikan Gao dan Mohammed ibn Gao, tetapi tertarik dengan laut di sebelah barat kekaisaran. Menurut catatan yang diberi oleh Mansa Musa I, yang selama era kekuasaan Abubakari II menjadi kankoro-sigui mansa, Mali mengirim dua ekspedisi ke samudra Atlantik. Mansa Abubakari II meninggalkan Musa sebagai wali raja kekaisaran, menunjukan stabilitas yang mengagumkan selama periode ini di Mali, dan berangkat dengan ekspedisi kedua yang memerintahkan 4.000 pirogue dilengkapi dengan dayung dan layar tahun 1311.[27] Baik kaisar ataupun kapal tidak pernah kembali ke Mali. Sejarawan dan ilmuwan modern ragu-ragu mengenai keberhasilan pelayaran, tetapi catatan mengenai hal tersebut ada di catatan tertulis Afrika Utara dan catatan lisan djeli Mali.

Garis silsilah Laye 1312-1389

Abdikasi Abubakari II tahun 1312, satu-satunya yang tercatat dalam sejarah, menandai dimulainya garis silsilah baru yang berasal dari Faga Laye.[13] Faga Laye adalah putra dari Abubakari I. Tidak seperti ayahnya, Faga Laye tidak pernah mengambil tahta Mali. Namun, garis ini akan menghasilkan tujuh mansa yang berkuasa selama puncak kekuasaan Mali dan menuju awal dari kemundurannya.

Pemerintahan

Kekaisaran Mali mencapai luasnya yang terbesar dibawah mansa Laye. Selama periode ini, Mali terdiri dari hampir seluruh wilayah antara Gurun Sahara dan hutan pantai. Kekaisaran ini terbentang dari Samudera Atlantik sampai Niamey modern di Niger. Pada tahun 1350, kekaisaran ini memiliki luas kira-kira 439.400 kilometer persegi. Kekaisaran ini juga mencapai populasi terbesarnya selama periode Laye dengan menguasai 400 kota,[28] dan desa dari berbagai region dan etnis. Ulama pada era itu mengklaim perlu tidak kurang dari satu tahun untuk melintasi kekaisaran dari barat ke timur. Selama periode ini, hanya kekaisaran Mongolia yang wilayahnya lebih besar.

Peningkatan dramatis besar kekaisaran meminta giliran dari organisasi Manden Kurufa tiga negara bagian dengan dua belas tanah jajahan. Model ini ialah sisa oleh waktu haji Mansa Munsa ke Mesir. Menurut al'Umari, yang mewawanarai seorang Berber yang telah hidup di Niani selama 35 tahun, terdapat empat belas provinsi (kerajaan jajahan). Pada catatan al-'Umari, ia hanya mencatat tiga belas provinsi berikut.[29]

  • Gana (provinsi ini merujuk pada sisa Kekaisaran Ghana)
  • Zagun atau Zafun (nama lain dari Diafunu)[30]
  • Tirakka atau Turanka (Antara Gana dan Tadmekka)[31]
  • Tekrur (Pada cataract ketiga sungai Senegal, sebelah utara Dyolof)
  • Sanagana (dinamai dari suku yang hidup di wilayah ini sebelah utara sungai Senegal)
  • Bambuck atau Bambughu (wilayah penambangan emas)
  • Zargatabana
  • Darmura atau Babitra Darmura
  • Zaga (di Niger)
  • Kabora atau Kabura (juga di Niger)
  • Baraquri atau Baraghuri
  • Gao atau Kawkaw (provinsi yang dihuni oleh Songhai)
  • Mali atau Manden (ibukota provinsi yang merupakan asal nama kekaisaran)

Musa I

Penguasa pertama dari Laye adalah Kankan Musa, juga disebut sebagai Kango Musa. Setelah setahun lewat tanpa kabar mengenai Abubakari II, ia dimahkotai sebagai Mansa Foamed Musa. Mansa Musa adalah salah satu orang Muslim pertama yang sungguh-sungguh taat untuk menuntun Kekaisaran Mali. Ia mencoba untuk membuat agama Islam sebagai kepercayaan kaum ningrat,[12] tetapi tetap membiarkan tradisi kerajaan yang tidak memaksa populasinya. Ia juga melaksanakan perayaan Id pada akhir Ramadan. Ia dapat membaca dan menulis aksara Arab dan tertarik pada kota Timbuktu, yang digabung olehnya dengan damai tahun 1324. Melalui salah satu wanita kerajaan istananya, Munsa mengubah Sankore dari madrasah tidak resmi menjadi universitas Islam. Penelitian Islam tumbuh subur sesudah itu. Pada tahun yang sama, jendral Mandinka yang diketahui sebagai Sagmandir mengakhiri pemberontakan di Gao.[12]

Pencapaian pemahkotaan Mansa Musa adalah peziarahan terkenalnya ke Mekkah, yang dimulai pada tahun 1324 dan ia kembali pada tahun 1326. Catatan mengenai berapa banyak orang dan berapa banyak emas yang ia gunakan bervariasi. Semuanya setuju bahwa grup penjaga mansa terdiri dari pasukan yang sangat besar (mansa menyimpan pasukan penjaga sebanyak 500 orang),[32] dan ia memberikan sangat banyak sedekah dan membawa sangat banyak barang yang dihargai emas di Mesir dan timur dekat yang menurun harganya selama dua belas tahun.[33] Ketika ia melewati Kairo, sejarawan al-Maqurizi mencatat "anggota orang yang menemani mansa membeli budak wanita Turki dan Ethiopia, garmen dan wanita penyanyi, sehingga harga emas dinar turun enam dirham."

Musa sangat pemurah sehingga ia kehabisan uang dan terpaksa melelang agar dapat kembali ke rumah. Haji Musa, dan terutama emasnya, menarik perhatian dunia Islam dan Kekristenan, oleh sebab itu, Nama Mali dan Timbuktu muncul pada peta dunia abad ke-14.

Ketika sedang melakukan haji, ia bertemu penyair dan arsitek Al-Andalus, Es-Saheli. Mansa Musa membawa arsitek ini kembali ke Mali untuk mempercantik beberapa bagian kota. Masjid dibangun di Gao dan Timbuktu bersama dengan istana yang mengagumkan yang juga dibangun di Timbuktu. Pada saat kematiannya tahun 1337, Mali telah menguasai Taghazza, wilayah produsen garam di utara, yang makin memperkuat keuangannya.

Mansa Musa diteruskan oleh anaknya, Maghan I.[12] Mansa Maghan I menghabiskan uang dengan tidak berguna dan merupakan kaisar lesu pertama sejak Khalifa. Kekaisaran Mali yang dibangun oleh pendahulunya terlalu kuat untuk pemerintahan tak becusnya dan diberikan secara utuh kepada saudara kandung Musa, Souleyman tahun 1341.

Souleyman

Mansa Souleyman mengambil pengukuran curam untuk mengembalikan bentuk finansial Mali kdan mengembangkan reputasi untuk kepelitan.[12] Namun, ia membuktikan menjadi pemimpin kuat dan baik meskipun terdapat beberapa tantangan. Selama kekuasaannya, serangan Fula di Takrur dimulai. Terdapat konspirasi istana untuk menurunkannya untuk digantikan oleh Qasa (istilah Manding yang berarti Ratu) dan beberapa komandan pasukan.[12] Jendral Mansa Souleyman berhasil menghadapi penyerangan militer ini, dan istri senior dibalik rencana ini dipenjarakan.

Sang mansa juga berhasil melaksanakan sebuah ibadah haji, melanjutkan korepondensi dengan Maroko dan Mesir dan membangun sebuah panggung dari tanah di Kangaba yang disebut Camanbolon, tempat ia beraudiensi menerima para gubernur provinsi dan menaruh Kitab-kitab Suci yang ia bawa kembali dari Hejaz.

Satu-satunya kemunduran utama kekuasaannya adalah hilangnya provinsi Dyolof Mali ke tangan Senegal. Populasi Wolof di wilayah itu disatukan ke negara mereka sendiri yang disebut sebagai Kekaisaran Jolof tahun 1350-an. Ketika Ibn Battuta tiba di Mali pada Juli 1352, ia menemukan peradaban yang berkembang besar. Mansa Souleyman meninggal pada tahun 1360 dan diteruskan oleh putranya, Camba.

Mari Djata II

Setelah kekuasaan belaka selama sembilan bulan, Mansa Camba diturunkan oleh salah satu dari tiga putra Maghan I. Konkodougou Kamissa, dinamai dari provinsi yang pernah diperintahnya,[13] dimahkotai sebagai Mansa Mari Djata II tahun 1360. Ia berkuasa dengan menindas dan hampir membangkrutkan Mali dengan pengeluarannya yang berlimpah. Ia dapat berhubungan dengan Moroko, mengirim jerapah ke Raja Abu Hassan dari Maghreb. Mansa Mari Djata II sakit pada tahun 1372,[12] dan kekuasaan berpindah ke tangan menterinya sampai kematiannya tahun 1374.

Musa II

Era kehancuran Mari Djata II meninggalkan kekaisaran dalam keadaan finansial yang buruk, tetapi kekaisaran ini diserahkan kepada saudara kandung kaisar yang sudah meninggal. Mansa Fadima Musa atau Mansa Musa II, memulai proses pengembalian kewalahan saudara kandungnya.[12] Ia tidak melakukannya; namun, pengadaan kekuasaan mansa sebelumnya karena pengaruh kankoro-siguinya.

Kankoro-Sigui Mari Djata, yang tidak berhubungan dengan klan Keita, menjalankan kekaisaran dibawah kaedah Musa II. Ia memadamkan pemberontakan Taureg di Takedda dan berkampanye di Gao. Sementara ia berhasil di Tahkedda, ia tidak pernah menang di Gao. Pemukiman Songhai dengan efektif mengguncang kekuasaan Mali tahun 1375. Pada saat kematian Mansa Musa II tahun 1387, Mali secara finansial mampu membayar hutang dan memegang semua penaklukan Gao dan Dyolof sebelumnya. Empat puluh tahun setelah kekuasaan Mansa Musa I, kekaisaran Mali masih menguasai 1.1 juta meter wilayah di sepanjang Afrika Barat.[34]

Maghan II

Anak terakhir Maghan I, Tenin Maghan (juga disebut sebagai Kita Tenin Maghan untuk provinsi yang pernah ia perintah) dimahkotai sebagai Mansa Maghan II tahun 1387.[13] Sedikit yang diketahui tentangnya kecuali bahwa ia berkuasa selama dua tahun. Ia diturunkahn tahun 1389 yang menandai berakhirnya era mansa Faga Laye.

Garis silsilah gelap 1389-1545

Dari tahun 1389, Mali akan memperoleh mansa yang asal usulnya gelap. Periode ini merupakan periode yang paling sedikit diketahui dalam sejarah kerajaan Mali. Apa yang nampak adalah bahwa tidak ada garis silsilah mantap yang memerintah kekaisaran. Karakteristik lain era ini adalah hilangnya wilayah utara dan timur dengan bangkitnya kekaisaran Songhai dan fokus terhadap ekonomi Mali dari rute perdagangan trans-sahara sampai perdagangan sepanjang pantai yang berkembang.

Maghan III

Mansa Sandaki, keturunan Kankoro-Sigui Mari Djata, menurunkan Maghan II dan menjadi orang pertama tanpa hubungan dengan dinasti Keita yang secara resmi berkuasa di Mali.[12] Ia hanya akan berkuasa setahun sebelum keturunan Mansa Gao menurunkannya.[35] Mahmud, yang mungkin cucu atau anak cucu dari Mansa Gao, dimahkotai sebagai Mansa Maghan III tahun 1390. Selama kekuasaannya, kaisar Mossi, Bonga dari Yatenga menyerang Mali dan menghancurkan Macina.[12] Kaisar Bonga tidak terlihat menguasai wilayah itu, dan tetap berada di kekaisaran Mali sampai kematian Maghan III tahun 1400.

Musa III

Pada awal tahun 1400-an, Mali masih cukup kuat untuk menaklukkan dan menetapi wilayah baru. Salah satunya adalah Dioma, wilayah di sebelah selatan Niani yang dihuni oleh Peuhl Wassoulounké.[13] Dua saudara kandung bangsawan dari Niani dari garis silsilah yang tidak diketahui, pergi ke Dioma dengan pasukan dan memukul mundur Peuhl Wassoulounké. Sérébandjougou, yang tertua di antara dua saudara itu, dimahkotai sebagai Mansa Foamed atau Mansa Musa III. Pada pemerintahan awalnya terlihat banyak kekalahan Mali. Pada tahun 1430, suku Tuareg dapat menguasai Timbuktu.[36] Tiga tahun kemudian, Oualata juga jatuh ke tangan mereka.[12]

Ouali II

Dengan kematian Musa III, saudara kandungnya, Gbèré, menjadi kaisar pada pertengahan abad ke-15.[13] Gbèré dimahkotai sebagai Mansa Ouali II dan berkuasa selama periode perhubungan Mali dengan Portugal. Pada tahun 1450-an, Portugal mulai melancarkan serangan di sepanjang pantai Gambia.[37] Gambia masih dapat dikuasai Mali, dan ekspedisi penyerangan tersebut menemui takdir bencana sebelum Diego Gomez Portugal memulai hubungan resmi dengan Mali melalui subyek Wolof sisanya.[38] Cadomasto, pengelana Venesia, mencatat bahwa Kekaisaran Mali adalah entitas terkuat pada tahun 1454.[39]

Meskipun mereka kuat di barat, Mali kalah dalam pertempuran di utara dan timur laut. Kekaisaran Songhai yang baru menguasai Mema,[12] salah satu jajahan terlama Mali. Kekaisaran ini lalu menguasai Timbuktu dari Taureg tahun 1468 dibawah Sunni Ali Ber.[12]

Mansa Mahmud II

Tidak diketahui kapan pastinya Mamadou menjadi Mansa Mahmud II atau yang ia turunkan dari, tetapi ia diketahui menguasai tahta pada tahun 1470-an. Kaisar lainnya, Mansa Mahan III, terkadang disebut sebagai Mansa Mahmud I, tetapi nama takhta biasanya tidak menandai hubungan darah. Kekuasaan Mansa Mahmud II memiliki karakteristik dengan lebih banyak hilangnya jajahan Mali dan meningkatnya hubungan antara Mali dan pengelana Portugal di sepanjang pantai. Pada tahun 1477, kaisar Yatenga Nasséré melakukan serangan Mossi lainnya ke Macina dan menguasainya dan provinsi lama BaGhana (Wagadou).[40] Pada tahun 1481, serangan Peuhl terhadap provinsi Tekrur Mali dimulai.

Perdagangan yang berkembang di provinsi barat Mali dengan Portugal menyaksikan pertukaran utusan antara kedua negara. Mansa Mahmud II menerima utusan Portugis, Pedro d’Evora al Gonzalo tahun 1484.[13] Mansa kehilangan kekuasaan atas Jalo selama periode ini.[41] Sementara itu, Songhai menguasai tambang garam Taghazza tahun 1493. Pada tahun yang sama, Mahmud II mengirim utusan lainnya ke Portugis dan mengusulkan persekutuan melawan Peuhl. Portugis memilih untuk tidak ikut campur dalam konflik dan membicarakan kesimpulan pada 1495 tanpa persekutuan.[41]

Tak mungkin jika Mahmud II berkuasa lebih lama daripada dekada pertama abad ke-16; namun, tidak terdapat nama penguasa selama waktu ini. Jika Mahmud II masih berada pada tahta sekitar tahun 1495 dan 1530-an, ia dapat memegang kehormatan meragukan karena kehilangan banyak jajahan selama periode imperial Mali. Pasukan Songhai dibawah komando Askia Muhammad menaklukan jendral Mali, Fati Quali tahun 1502 dan menguasai provinsi Diafunu.[12] Pada tahun 1514, dinasti Denanke didirikan di Tekrour. Tidak lama sebelum kerajaan baru Fulo Raya berperang terhadap provinsi sisa Mali. Untuk menambah luka, kekaisaran Songhai menguasai tambang tembaga di Takedda.

Mansa Mahmud III

Mansa terakhir yang berkuasa dari Niani adalah Mansa Mahmud III, yang juga disebut sebagai Mansa Mamadou II. Seperti banyak penguasa pada periode ini, tidak jelas kapan ia mulai berkuasa. Satu-satunya tanggal yang menunjukan kekuasaannya adalah tibanya utusan Portugal tahun 1534, dan dirusaknya Niani tahun 1545. Hal ini tidak mengesampingkan naiknya ke takhta pada akhir 1520-an atau lebih awal lagi.

Pada tahun 1534, Mahmud III menerima utusan Portugis lainnya ke istana Mali dengan nama Peros Fernandes.[42] Utusan dari pelabuhan Elmina di Portugis ini tiba sebagai respon atas perkembangan perdagangan di sepanjang pantai dan permintaan mendesak Mali untuk bantuan militer melawan Songhai.[43] Namun, tidak ada bantuan datang dan Mali harus melihat jajahannya jatuh satu persatu.

Kekuasaan Mansa Mahmud III juga melihat pos militer dan provinsi Kaabu merdeka pada tahun 1537.[41] Kekaisaran Kaabu muncul seambisi Mali pada awal tahunnya dan menguasali provinsi Cassa dan Bati Mali.[44]

Momen paling menegaskan pada kekuasaan Mahmud III adalah konflik terakhir antara Mali dan Songhai tahun 1545. Pasukan Songhai dibawah saudara kandung Askia Ishaq, Daoud, menguasai Niani dan menduduki istana.[45] Mansa Mahmud III terpaksa melarikan diri dari Niani menuju pegunungan. Dalam waktu seminggu, ia berkumpul kembali dengan pasukannya dan melancarkan serangan balasan yang berhasil dan mengeluarkan Songhai dari Manden.[46] Kekaisaran Songhai tetap menyimpan ambisi Mali dalam cek, tetapi tidak pernah berhasil menguasai penuh Mali.

Setelah membebaskan ibukota, Mahmud III meninggalkannya untuk rumah baru di utara.[46] Namun, masalah-masalah Mali tetap tidak berakhir. Pada tahun 1559, kerajaan Fouta Tooro berhasil berebut Takrur.[41] Kekalahan ini mengurangi Mali ke Manden dengan kekuasaannya hanya sejauh Kita di barat, Kangaba di utara, sungai Niger di timur dan Kouroussa di selatan.

Mali Imperial Akhir

Tidak terdapat tanggal kapan Mansa Mahmud III berakhir menguasai Mali, dengan pada tahun 1560 benar-benar hanya inti bagi Manden Kurufa. Dari 1559 sampai 1645, mansa Manden berkuasa dari Kangaba selama kemunduran akhirnya. Mansa penting selanjutnya, Mahmud IV, tidak muncul dalam catatan apapun sampai akhir abad ke-16. Namun, ia terlihat memiliki perbedaan dalam menjadi penguasa terakhir Manden. Pengikutnya disalahkan untuk perceraian Manden Kurufa ke utara, tengah dan selatan.

Mansa Mahmud IV

Mansa Mahmud IV (juga disebut sebagai Mansa Mamadou III, Mali Mansa Mamadou dan Niani Mansa Mamadou) adalah kaisar terakhir Manden menurut Tarikh es-Sudan. Dinyatakan bahwa ia melancarkan serangan terhadap kota Djenné tahun 1599 dengan harapan sekutu Fulani mengambil keuntungan dalam kekalahan Songhai.[47] Fusilier Moroko, didistribusikan dari Timbuktu, bertemu mereka dalam pertempuran membongkar Mali dengan teknologi sama (senjata api) yang menghancurkan Songhai. Meskipun kehilangan banyak, pasukan mansa tidak terhalangi dan hampir memajukan hari.[47] Namun, pasukan didala Djenné ikut serta dan memaksa Mansa Mahmud IV dan pasukannya mundur ke Kangaba.[43]

Keruntuhan

Peta Afrika Barat tahun 1736, "menjelaskan yang menjadi milik Inggris, Belanda, Denmark, dll."

Kekelahan mansa mendapatkan perhatian Moroko dan dapat menyelamatkannya dari takdir Songhai. Mandinka sendirilah yang mengakibatkan kehancuran kekaisarannya. Sekitar tahun 1610, Mahmud IV tewas. Tradisi menyatakan bahwa ia memiliki tiga anak yang bertempur terhadap sisa Manden. Tidak ada satu orangpun yang menguasai Manden setelah kematian Mahmuud IV, mengakibatkan berakhirnya kekaisaran Mali selamanya.[48]

Manden terbagi

Inti tua kekaisaran terbagi menjadi tiga kekuasaannya. Kangaba, ibukota de facto Manden sejak era kaisar terakhir, menjadi ibukota bagian utara. Wilayah Joma, diperintah oleh Siguiri, menguasai wilayah tengah, yang meliputi Niani. Hamana atau Amana, sebelah barat daya Joma, menjadi bagian selatan dengan ibukotanya di Kouroussa di Guinea modern.[48] Tiap penguasa menggunakan gelar mansa, tetapi kekuasaan mereka hanya sebatas wilayah mereka sendiri. Meskipun perpecahan ini terjadi, Manden Kurufa selamat pada abad ke-17. Ketiga negara saling berperang sebanyak jika tidak dilakukan lebih dari mereka melawan orang asing, tetapi saingan menghentikannya dengan invasi. Tren ini akan berlanjut sampai era kolonial melawan musuh Tukulor dari barat.[49]

Jihad Bamana

Pada tahun 1630, Bamana dari Djenné mendeklarasikan invasi perang suci mereka terhadap semua kekuatan Muslim di Mali modern.[50] Mereka menyerang Pasha Moroko di Timbukti dan mansa Manden. Pada tahun 1645, Bamana menyerang Manden dan menguasai baik tepi Niger sampai Niani.[50] Kampanye ini mengeluarkan Manden dan menghancurkan harapan ketika mansa berkooperasi untuk membebaskan tanah mereka. Kekuasaan Mandinka yang diampuni dari kampanye ini adalah Kangaba.

Manden terbagi

Mama Maghan, mansa Kangaba, berkampanye melawan Bamana tahun 1667 dan menyerang Segou.[50] Segou, dilindungi oleh Biton Kouloubali, berhasil bertahan Mama Maghan terpaksa mundur ke Kangaba. Baik sebagai serangan balasan atau pergerakan penyerangan yang telah direncanakan sebelumnya terhadap sisa Mali, Bamana menghancurkan Niani tahun 1670.[50]

Lihat pula

Dari : Wikipedia Indonesia
Reade more >>