Pages

Ads 468x60px

27 Mei 2010

Rumpun bahasa Afroasiatik

Peta yang menunjukkan distribusi bahasa-bahasa Afro-Asia

Rumpun bahasa Afroasiatik ialah rumpun bahasa dengan anggota hampir 240 bahasa dan 285 juta penutur yang tersebar di daerah Afrika Utara, Afrika Timur, Sahel, dan Asia Barat Daya. Nama lain yang diberikan bagi rumpun bahasa ini adalah Afrasia, Hamito-Semitik (tidak dipakai lagi), Lisramic (Hodge 1972), Erythraean (Tucker 1966). Ke dalamnya termasuk bahasa-bahasa tertulis klasik yang bersejarah panjang, bahkan terpanjang, seperti bahasa Arab, bahasa Ibrani, bahasa Amharik, dan bahasa Koptik. Bahasa Arab memiliki pengaruh kuat terhadap bahasa Melayu/bahasa Indonesia karena penggunaannya sebagai bahasa kitab suci agama Islam. Satu-satunya bahasa Afroasiatik yanag dijadikan bahasa resmi di Uni Eropa adalah bahasa Malta.

Subrumpunbahasa ini ialah:

Bahasa Ongota sering dianggap sebagai rumpun Afro-Asiat, namun pengklasifikasiannya termasuk keluarga ini menyisakan kontroversi sebagian karena sedikitnya data). Sementara Harold Fleming mengusulkan bahwa itu merupakan cabang bebas dari Afro-Asia non-Omotik.

Tak secara umum disetujui pada di mana Proto-Afro-Asia diucapkan; Afrika (misal, Igor Diakonoff, Lionel Bender) telah sering mengusulkan, terutama Ethiopia berdasarkan pada perbedaan besar bahasa-bahasa Afro-Asianya, namun di pesisir Laut Merah barat dan Sahara juga telah dikemukakan (misal, Christopher Ehret). Alexander Militarev mengusulkan bahwa tempat aslinya ialah di Levant (secara spesifik, ia mengidentifikasikan mereka dengan budaya Natufia).

Bahasa-bahasa Semit ialah hanya subkeluarga Afro-Asia yang berdasar di luar Afrika; bagaimanapun, dalam masa sejarah atau sejarah yang dekat, beberapa penutur bahasa Semit menyeberang dari Arab Selatan kembali ke Ethiopia, maka beberapa bahasa Ethiopia modern (seperti bahasa Amharik) ialah bahasa Semit daripada termasuk kelompok substrata Kushitik atau Omotik. (Minoritas akademisi, seperti A. Murtonen (1967), menentang pandangan ini, mengusulkan bahwa bahasa Semit mungkin berasal dari Ethiopia.)

Bahasa berintonasi ditemukan pada cabang bahasa Omotik, Chadik, dan Kushitik Selatan & Timur Afro-Asia, menurut Ehret (1996). Cabang bahasa Semit, Berber dan Mesir tak berintonasi.

Daftar isi

[sembunyikan]

Ciri-ciri umum

Ciri-ciri umum bahasa Afro-Asia termasuk:

  • sistem dua gender dalam kata tunggal, dengan feminin ditandai dengan suara /t/.
  • Tipologi PSO dengan kecenderungan SPO.
  • seperangkat konsonan tegas, yang dengan berbagai cara dicapai dengan glotalisasi, pharyngealisasi, atau implosif, dan
  • morfologi templatis yang mana kata-kata dengan perubahan internal seperti prefiks dan sufiks.

Beberapa sanak termasuk:

  • b-n- "membangun" (Ehret: *bĭn), dibuktikan dalam bahasa Chadik, Semit (*bny), Kushitik (*mĭn/*măn "rumah") dan Omotik (Dime bin- "membangun, membuat");
  • m-t "meninggal" (Ehret: *maaw), dibuktikan dalam bahasa Chadik (misal Hausa mutu), Mesir (mwt, mt, Koptik mu), Berber (mmet, jamak. yemmut), Semit (*mwt), dan Kushitik (Proto-Somali *umaaw/*-am-w(t)- "meninggal")
  • s-n "tau", dibuktikan dalam bahasa Chadik, Berber, dan Mesir;
  • l-s "lidah" (Ehret: *lis' "menjilat"), dibuktikan dalam bahasa Semit (*lasaan/lisaan), Mesir (ns, Koptik las), Berber (iles), Chadik (mis. Hausa harshe), dan kemungkinan Omotik (Dime lits'- "menjilat");
  • s-m "nama" (Ehret: *sŭm / *sĭm), dibuktikan dalam bahasa Semit (*sm), Berber (isem), Chadik (misal Hausa suna), Kushitik, dan Omotik (meski bentuk Berber, isem, dan bentuk Omotik, sunts, terkadang ditolak sebagai kata pinjaman Semit.) Bahasa Mesir smi "laporan, pengumuman" mungkin juga bersaudara.
  • d-m "darah" (Ehret: *dîm / *dâm), dibuktikan dalam Berber (idammen), Semit (*dam), Chadi,kan Omotik (diperdebatkan). Kushitik *dîm/*dâm, "merah", mungkin bersaudara.

Dalam sistem verbal, Semitic, Berber, dan Cushitik (termasuk Beja) seluruh keterangan tersedia buat konjugasi prefiks:

Bahasa Indonesia Bahasa Arab (Semit) Kabyle (Berber) Saho (Cushitik; kata kerjanya ialah "membunuh") Beja (kata kerjanya ialah "datang")
ia (lelaki) meninggal yamuutu yemmut yagdifé iktim
ia (perempuan) meninggal tamuutu temmut yagdifé tiktim
mereka meninggal yamuutuuna mmuten yagdifín iktimna
kamu meninggal tamuutu temmuteḍ tagdifé tiktima
kalian meninggal tamuutuuna temmutem tagdifín tiktimna
saya meninggal ˀamuutu mmuteγ agdifé aktim
kami meninggal namuutu nemmut nagdifé niktim

Afiks kausatif s tersebar luas (ditemukan dalam seluruh subkeluarganya), namun juga ditemukan di kelompok lain, seperti bahasa-bahasa Niger-Kongo. Akhiran kata ganti kepemilikan didukung bahasa Semit, Berber, Kushitik (termasuk Beja), dan Chadik.

Sejarah klasifikasi

Terkadang pelajar pertengahan 2 atau lebih cabang Afro-Asia bersama; sudah di abad ke-9, tata bahasawan Ibrani Judah ibn Quraysh dari Tiaret, Aljazair merasakan hubungan antara Berber dan Semit (yang kemudian dikenalnya melalui Bahasa Arab, Bahasa Ibrani, dan Bahasa Aram.)

Pada 1800-an, orang-orang Eropa mulai mengusulkan hubungan begitu; demikian pada 1844 Th. Benfey keluarga bahasa yang termasuk bahasa Semit, Berber, dan Cushitik (dikenal kemudian sebagai "bahasa Ethiopia"). Di tahun yang sama, T. N. Newman mengusulkan hubungan antara bahasa Semit dan Hausa, namun ini akan menyisakan perdebatan panjang dan ketidakpastian. Keluarga bahasa "Hamito-Semit" tradisional dinamai Friedrich Müller pada 1876 dalam Grundriss der Sprachwissenschaftnya, dan ditetapkan mendirikan kelompok bahasa Semitic plus grup "Hamitic" yang memuat bahasa Mesir, Berber, dan Kushitik; kelompok Chadik tak termasuk. Sebagian klasifikasi ini didasarkan pada antropologi non-linguistik dan argumen rasial.

Leo Reinisch (1909) mengusulkan hubungan Kushitik dan Chadik, saat meminta lebih banyak pertalian jauh dengan bahasa Mesir dan Semit, demikian bayangan Greenberg; namun secara besar usulannya diabaikan. Marcel Cohen (1947) menolak gagasan subkelompok "Hamitic" yang berbeda, dan memasukkan Hausa (bahasa Chadik) perbandingan kosakata Hamito-Semitnya. Joseph Greenberg (1950) menegaskan penolakan Cohen mengenai "Hamitic", menambahkan (dan mensubklasifikasikan) bahasa Chadik, dan mengajukan nama baru Afro-Asia untuk keluarga itu; klasifikasinya tentang itu sampai menjadi hampir secara universal diterima. Pada 1969, Harold Fleming mengajukan pengenalan bahasa Omotik sebagai cabang ke-5, daripada (seperti yang sebelumnya dipercaya) subkelompok Kushitik, dan ini menjadi secara umum diterima. Beberapa pelajar, termasuk Harold Fleming dan Robert Hetzron, sejak itu telah menanyakan pencantuman tradisional bahasa Beja dalam Cushitik, namun pandangan ini belum mendapatkan penerimaan umum.

Ada persetujuan kecil pada subklasifikasi 5 atau 6 cabang yang disebutkan; bagaimanapun, Christopher Ehret (1979), Harold Fleming (1981), dan Joseph Greenberg (1981) semuanya setuju jika bahasa Omotik cabang pertama yang terpisah dari lainnya. Sebaliknya, Ehret mengelompokkan bahasa Mesir, Berber, dan Semit bersama dalam subkelompok Afro-Asia Utara; Paul Newman (1980) mengelompokkan bahasa Berber dengan Chadik dan Mesir pada rumpun Semit, saat pertanyaan pencantuman bahasa Omotik; Fleming (1981) membagi rumpun Afro-Asia non-Omotik, atau "Erythraean", dalam 3 kelompok, Kushitik, Semit, dan lainnya; ia kemudian menambahkan baahasa Semit dan Beja pada ‘yang lain-lainnya’ itu, dengan Ongotá sebagai cabang ke-3 sementara; dan Lionel Bender (1997) menyokong "Makro-Cush" menyusun Berber, Kushitik, dan Semit, saat menganggap bahasa Chadik dan Omotik sebagai yang terjauh dari cabang lainnya. Vladimir Orel dan Olga Stolbova (1995) mengelompokkan bahasa Berber dengan Semit, Chadik dengan bahasa Mesir, dan membagi Kushitik ke dalam 5 atau lebih subkeluarga tersendiri dari rumpun Afro-Asia, yang melihatnya sebagai Sprachbund daripada subkeluarga yang benar. Alexander Militarev (2000), pada basis leksikostatistik, mengelompokkan bahasa Berber dengan Chadik dan keduanya, lebih jauh lagi, dengan bahasa Semit, sebagai pada bahasa Kushitik dan Omotik.

Reade more >>

Rumpun bahasa Indo-Eropa

Topik Indo-Eropa

Bahasa Indo-Eropa
Albania • Anatolia • Armenia
Baltik • Keltik • Dasia^ • Jermanik
Yunani • Indo-Iran • Italik • Frigia^
Slavia • Trasia^ • Tokharia

^ belum dikategorikan

Bangsa Indo-Eropa
Albania • Anatolia • Armenia
Baltik • Keltik • Jermanik
Yunani • Indo-Arya • Indo-Iran
Iranik • Italik • Slavia
Trasia • Tokharia
Bangsa Proto-Indo-Eropa
Bahasa • Masyarakat • Agama
Hipotesis Urheimat
Hipotesis Kurgan • Anatolia
Armenia • India • TKP
Studi Indo-Eropa

Rumpun bahasa Indo-Eropa adalah kelompok bahasa-bahasa berkerabat dengan banyak penutur terbesar di seluruh dunia. Ada ratusan bahasa yang masih dituturkan yang termasuk dalam rumpun bahasa ini. Banyak bahasa anggota rumpun ini yang memiliki sejarah tertulis sangat panjang (kedua tertua setelah rumpun bahasa Afroasiatik) sehingga kajiannya relatif eksak dan perbandingan bahasa dapat dilakukan lebih cermat. Kurang lebih separuh dari 6 milyar jiwa penduduk bumi berbahasa ibu dari salah satu rumpun bahasa ini. Nama Indo-Eropa digunakan karena penutur aslinya menghuni wilayah yang membentang dari India sampai Eropa, diberikan oleh peneliti pertamanya, Sir William Jones. Setelah era imperialisme di abad ke-19 penutur rumpun bahasa ini bahkan menyebar hingga ke Pasifik dan benua Amerika.

Bahasa-bahasa Indo-Eropa mencakup delapan subrumpun yang mudah ditilik perbedaan maupun kemiripannya. Mereka adalah subrumpun Indo-Iran, Armenia, Helenik, Albania, Italik, Keltik, Germanik, dan Balto-Slavik. Selain itu terdapat sub rumpun bahasa Anatolia, Tokharia, dan bahasa Proto-Indo-Eropa (hipotetik) yang telah punah.

Dari 20 bahasa masa kini yang terbesar menurut jumlah penuturnya menurut SIL Ethnologue, dua belas di antaranya adalah Indo-Eropa: bahasa Spanyol, bahasa Inggris, bahasa Hindi, bahasa Portugis, bahasa Bengali, bahasa Rusia, bahasa Jerman, bahasa Marathi, bahasa Prancis, bahasa Italia, bahasa Punjabi, dan bahasa Urdu. Penutur asli kedua belas bahasa ini mencakup lebih dari 1,6 milyar jiwa. Sejumlah bahasa Indo-Eropa telah menyumbang banyak kosa kata ke dalam bahasa Indonesia, seperti bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Portugis, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris.

Daftar isi

[sembunyikan]

Klasifikasi bahasa Indo-Eropa

Indo-Eropa
Distribusi
geografis:
Sebelum abad ke-15: Eropa, Asia Selatan, Asia Tengah, dan Asia Barat Daya. Sekarang di seluruh dunia.
Klasifikasi
genetik
:
Salah satu rumpun bahasa utama dunia.
Pembagian:
Italik (termasuk bahasa Roman)
IE countries.png

Oranye: negara dengan mayoritas penutur bahasa IE
Kuning: negara dengan sebuah bahasa IE sebagai bahasa resmi meski minoritas

Proto Indo-Eropa Bahasa Albania

Bahasa Anatolia


Bahasa Armenia

Bahasa Balto-Slavik


Bahasa Indo-Iran


Bahasa Jermanik


Bahasa Italo-Keltik


Bahasa Tokharia

Bahasa Yunani

Bahasa Trasia

Bahasa Illiria

Bahasa Frigia

(†- Bahasa mati)

Bahasa-bahasa Indo-Eropa sudah ribuan tahun dituliskan. Bahasa Indo-Eropa tertua yang tersurat adalah bahasa Hitit dari tahun 1800 s.M. Sedangkan fragmen bahasa daripada kitab Rgveda Sansekerta yang tertua diperkirakan berasal dari tahun 1500 s.M.. Tetapi pada kasus terakhir ini, nyanyian ini baru dituliskan pada kira-kira tahun 500. Sehingga ada tradisi Sastra Oral sepanjang paling tidak 1.000 tahun. Fragmen bahasa Yunani yang tertua adalah dalam bahasa Misenia, dan ditulis menggunakan huruf Linear B dan berasal dari kira-kira tahun 1.200 s.M..

Hipotesis lain

Reade more >>

Suku Hun

Kekaisaran Hun

Hun adalah suku nomad dari Asia Tengah yang pindah dan tinggal di Eropa pada abad IV dan V Masehi. Mereka terdiri dari berbagai etnis, misalnya Turkic, Tungus, Mongol, dan Finno-Ugric. Suku Ostrogoth bertemu dengan suku Hun pada 358 Masehi. Di bawah pimpinan Attila, mereka mendirikan Kekaisaran Hun pada abad ke-5 Masehi. Saat ini banyak bangsa yang menganggap dirinya penerus bangsa Hun, misalnya di Bulgaria dan Hongaria.

Galeri


Reade more >>

Afrika Utara

Peta Afrika. Negara-negara yang diwarnai hujau tua adalah negara-negara Afrika Utara menurut definisi PBB. Negara-negara lain yang sering dianggap sebagai bagian Afrika Utara diwarnai hijau muda.

Afrika Utara adalah daerah di benua Afrika di mana budaya dan penduduknya berbeda dengan daerah di Afrika lainnya. Penduduk Afrika Utara sebagian besar termasuk ras kulit putih dan merupakan penutur bahasa Afro-Asia. Mereka sebagian besar juga beragama Islam.

Negara-negara Afrika Utara seringkali juga disebut sebagai negara-negara Maghreb.

Daftar negara-negara di Afrika Utara, menurut definisi PBB:[1]

Kadangkala negara-negara berikut dimasukkan pula:

Daerah Afrika Utara dibatasi gurun Sahara dengan daerah Afrika yang lainnya.

Dari : W1k1p3d14 1nd0ne514

Reade more >>

Bangsa Persia

Persia

Cyrus Agung . Shah Reza . Ayatollah Khomeini . Jalal al-Din Muhammad Rumi

Jumlah populasi

c. 40-50 juta

Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan
Iran
Bahasa
Bahasa Persia
Agama
Islam, Kristen, Bahai, Yahudi dan Zoroastrianisme
Kelompok etnis terdekat
Bangsa Iran

Persia adalah salah satu suku yang tergolong dalam Bangsa Iran, menggunakan bahasa Persia dan juga mempunyai persamaan dalam kebudayaan dengan bangsa Iran yang lainnya. Bangsa ini mayoritas di Iran dan minoritas di beberapa negara-negara lain seperti Afganistan, Tajikistan, Uzbekistan, Amerika Serikat, Kuwait, Turki, Uni Emirat Arab, Irak dan juga beberapa negara di Timur Tengah.

Daftar isi

[sembunyikan]

Sejarah

Etnis Persia adalah keturunan Bangsa Arya yang berhijrah dari Asia Tengah ke Iran pada milenium kedua sebelum Masehi (SM).[1][2] Bangsa Arya ini kemudian terpecah dua menjadi bangsa Persia dan bangsa Media dan mereka berasimilasi dengan suku-suku setempat seperti Elam.[3][4] Dari sini, lahirlah bahasa Persia dan bahasa-bahasa Iran lain. Sumber sejarah tertulis pertama mengenai orang Persia ini ialah prasasti Assyria (834 SM), dan di dalam prasasti itu ada menyentuh tentang orang Parsua (Persia) dan Muddai (Media)[5][6] Saat itu, orang Asyur menggunakan istilah 'Parsua' untuk merujuk kepada suku-suku di Iran. Kemudian orang Yunani mengadaptasikan istilah ini untuk merujuk pada peradaban-peradaban dari Iran. Ketika orang Persia memeluk agama Islam, orang Arab menggelari mereka 'Fars' karena abjad 'P' tidak terdapat dalam tulisan Arab.

Kawasan Persia kemudian diperintah oleh beberapa kerajaan yang membentuk kekaisaran-kekaisaran yang kuat. Di antara kekaisaran-kekaisaran ini adalah kekaisaran Persia seperti Akhemenid, Parthia , Sassania, Buwaihidah dan Samania. Pemerintahan yang pernah memerintah Persia ialah Seleukus, Ummayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, Afshariyah dan Qajar.

Bahasa Persia

Bahasa Persia adalah salah satu bahasa yang tertua di dunia yang masih digunakan hingga hari ini. Bahasa Persia turut terkenal karena tradisi sastranya dan sastrawan-sastrawannya yang terkenal dan berbakat. Antaranya ialah Hafez, Ferdowsi, Khayyam, Attar, Saadi, Nezami, Roudaki dan juga Rumi. Bahasa ini tergolong dalam keluarga bahasa Indo-Eropa dan merupakan bahasa resmi di Iran, Tajikistan dan Afganistan.

Bahasa Persia turut mempengaruhi bahasa Indonesia dari segi nama yang merupakan nama tempat Persia purba, seperti Johansyah (Johan Shah) dan Firmansyah. Selain itu beberapa kosakata Persia lain turut diserap seperti arak, bait, bandar, menara, anggur, ratna (rakna), jahanam, topan (taufan), waswas, dll.

Agama

Faravahar adalah pengawal Zoroastrianisme penganut kepercayaan Zoroastrianisme.

Peradaban Persia telah memperkenalkan tiga agama utama yaitu Zoroastrianisme, Manikeanisme, dan Bahá'í. Agama-agama lain termasuk Mazdak dan Manikeanisme yang keduanya secara tidak langsungnya mempengaruhi agama Kristen: Keduanya berakar dari agama Zoroastrianisme. Sekarang, banyak cendekiawan memperdebatkan tentang agama yang mana terbit dahulu, Zoroastrianisme atau Yahudi. Tetapi mereka telah bersetuju bahwa Zoroastrianisme datang dahulu kalau diambil dari perspektif angelologi (doktrin tentang malaikat), demonologi (doktrin tentang setan) dan doktrin mengenai kiamat dan bencana alam.[7]

Sekarang, mayoritas orang Persia beragama Islam (aliran Syi'ah) dan juga terdapat kelompok minoritas beragama Islam (aliran Sunnah Waljamaah), Zoroastrianisme, Kristen, Yahudi dan Bahá'í. Terdapat juga ateis dan agnostik. Orang Persia mulai memeluk Islam sekitar tahun 637 – 651. Hal itu terkait rapat dengan penyebaran Islam pada zaman Khulafa'ur Rasyidin.

Etnis Persia di seluruh dunia

Reade more >>

Blok Poros

warna hijau adalah pihak Sekutu(hijau terang adalah yang bergabung setelah penyerangan ke Pearl Harbor), Negara-negara Poros berwarna biru dan warna abu-abu adalah negara netral

Negara-negara Poros adalah negara-negara yang menentang pihak Sekutu selama Perang Dunia II. Ada 3 negara utama dalam kekuatan poros yaitu; Nazi Jerman, Italia dan Kekaisaran Jepang. Pada puncak kejayaan mereka, Kekuatan Poros menguasai dominasi daerah yang sangat luas di Eropa, Asia, Afrika dan Oseania/Pasifik. Tetapi Perang Dunia II berakhir dengan kekalahan mereka. Seperti pihak Sekutu, keanggotaan Negara-negara Poros tidak tetap, dan beberapa negara bergabung dan kemudian meninggalkan Negara-negara Poros selama perang berlangsung.

Daftar isi

[sembunyikan]

Anggota Negara-negara Poros yang utama

Anggota Negara-negara Poros minoritas

Negara Boneka Jepang

Negara boneka Italia

[sunting] Negara boneka Jerman

Negara lainnya yang berkoalisi

Bekas anggota

Dari : Wikipedia Indonesia
Reade more >>

Republik Sosialis Soviet Azerbaijan (Bagian dari Artikel ''Azerbaijan'')

Republik Soviet Sosialis Azerbaijan (Azerbaijan: Азәрбаjҹан Совет Сосиалист Республикасы, Azərbaycan Sovet Sosialist Respublikası) adalah salah satu Republik dari Uni Soviet yang merdeka pada tanggal 18 Oktober 1991 menjadi Republik Azerbaijan. Diresmikan sebagai sebuah Republik bagian dari Uni Soviet sebagai bagian dari Republik Trans Kaukasus pada tahun 1920 dan diakui oleh Kongres Luar Biasa Rakyat Azerbaijan terhadap Uni Soviet pada 14 Maret 1937.

Daftar isi

[sembunyikan]

Perkembangan

Republik ini terbentuk setelah menyerahnya Republik Demokratik Azerbaijan yang dipimpin oleh Mirza Davud dan Nariman Narimanov. Uni Soviet dan R.D. Azerbaijan menyepakati perjanjian perdamaian pada Agustus 1920 di Yerevan, yang isinya bahwa R.D. Azerbaijan tetap berhak atas pemerintahannya. Tapi, perjanjian ini dilanggar oleh Uni Soviet yang mengirim simpatisan Bolshevik di Azerbaijan. Tentara R.D. Azerbaijan terpaksa menyerah, dan para Bolshevik Azerbaijan memproklamasikan RSS Azerbaijan.

Perkembangan ekonomi di Azerbaijan berkembang setelah di temukannya ladang minyak di: Teluk Ilyich, Qara-Chukur, dan Lok Batan. Pada tahun 1929, di adakan kolkhoz (pertanian kolektif) besar-besaran dibidang pertanian. Dan pada 15 Maret 1931, Azerbaijan yang menyuplai sekitar 60% stok minyak untuk Uni Soviet, mendapatkan Hadiah Lenin.

Perang Dunia II

Pada masa ini, Azerbaijan memproduksi setidaknya 25,4 juta ton minyak bahan bakar. Ini tercatat sebagai produksi bahan bakar terbesar sepanjang sejarah. Jerman mencoba merebut kawasan potensial Azerbaijan, tapi mereka tertahan oleh Pegunungan Kaukasus dan kekalahan mereka di Stalingrad. Terpaksa, pasukan Reichskommisariat Kaukasus harus mundur dari Azerbaijan. Pada akhir perang, Stalin memberikan penghargaan kepada lebih dari 500 pekerja tambang minyak Uni Soviet atas jasa mereka dalam melindungi Azerbaijan.

Soviet Azerbaijan tahun 1945-1991

Tahun 1953, setelah kematian Stalin, terjadilah proses perubahan di seantero Uni Soviet, yang dikenal dengan nama de-Stalinisasi, yaitu melonggarkan peraturan. De-Stalinisasi ini juga berefek drastis di Azerbaijan. Proses ini memicu urbanisasi besar-besaran dan industrialisasi.

Pada tahun 1960, mulailah terjadi krisis ekonomi, terutama dibidang tambang minyak. Perusahaan tambang minyak omzetnya turun dan perlahan-lahan bangkrut. Ini disebabkan oleh pemindahan produksi tambang minyak ke region lain di Uni Soviet. Pada tahun 1980-an, ketika Gorbachev memulai gerakan Perestroika, munculah organisasi Front Rakyat Azerbaijan yang menuntut kemerdekaan segera dari Uni Soviet. Hal ini terealisasi manakala kudeta yang dilakukan Boris Yeltsin berhasil dan pada 30 Agustus 1991, Azerbaijan merdeka secara mutlak dan menjadi bagian dari CIS

Reade more >>